haloo...
saya mau ngepost nih. ini sebenernya buat UH sih.. tpi gapapa deh, -_v
Hai. My name is Adistiani Wulandari. You can call me Adis or Tia. This is My Live~I just wanted to share what i know
Selasa, 27 Mei 2014
Minggu, 11 Mei 2014
Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai (Kutai Martadipura)
adalah kerajaan bercorak hindu yang terletak di muara Kaman, Kalimantan Timur,
tepatnya di hulu Sungai Mahakam. Kerajaan Kutai berdiri sekitar abad ke-4.
Bukti
sejarah tentang kerajaan Kutai adalah ditemukannya tujuh prasasti yang
berbentuk yupa (tiang batu) tulisan yupa itu menggunakan huruf pallawa dan
bahasa sansekerta. Yupa adalah tiang batu yang digunakan sebagai tiang untuk
mengikat hewan korban yang dipersembahkan rakyat Kutai kepada dewa-dewa dalam
kepercayaan mereka.
Adapun
isi prasati tersebut menyatakan bahwa raja pertama Kerajaan Kutai bernama
Kudungga. Ia mempunyai seorang putra bernama Asawarman yang disebut sebagai
wamsakerta (pembentuk keluarga). Setelah meninggal, Asawarman digantikan oleh
Mulawarman. Dari Raja Aswawarman menurunlah sampai Mulawarman, karena
Mulawarman pun memeluk agama Hindu. Hal itu diketahui dari penyebutan bangunan
suci untuk Dewa Trimurti. Bangunan itu disebut bangunan Wapraskewara dan di Gua
Kembeng di Pedalaman Kutai ada sejumlah arca-arca agama Hindu seperti Siwa dan
Ganesa.
Penggunaan
nama Asawarman dan nama-nama raja pada generasi berikutnya menunjukkan telah
masuknya pengaruh ajaran Hindu dalam kerajaan Kutai dan hal tersebut
membuktikan bahwa raja-raja Kutai adalah orang Indonesia asli yang telah
memeluk agama Hindu.
Keterangan
tertulis pada prasasti yang mengatakan bahwa Raja Mulawarman pernah memberikan
hartanya berupa minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.
Kerajaan
Kutai runtuh pada masa pemerintahan Maharaja Dharma Setia. Dharma Setia sendiri
terbunuh dalam peperangan melawan Aji Pangeran Anum Panji Mendapa dari
Kesultanan Islam Kutai Kartanegara. Terbunuhnya Maharaja Dharma Setia ini
menandakan berakhirnya Kerajaan Kutai sekaligus menjadikan Dharma Setia sebagai
raja terakhir Kerajaan Kutai.
Agama Budha
Buddha
artinya orang yang telah sadar dan ingin melepaskan diri dari samsara. Muncul
sebagai protes terhadap perbedaan kasta, terutama kasta brahmana yang dianggap
terlalu banyak mempunyai hak – hak istimewa, dan kasta kasta lain yang dianggap
terlalu membedakan kedudukan seseorang. Semua itu dipandang kurang adil. Agama
buddha diajarkan oleh Sidharta Gautama di India pada tahun
± 531 SM.
Kitab
suci agama buddha yaitu Tripitaka artinya “Tiga Keranjang” yang ditulis dengan
bahasa poli. Adapun yang dimaksud dengan Tiga Keranjang adalah:
1. Winayapitaka,
berisi tentang peraturan dan hukum yang menentukan cara hidup para pemeluk
agama Buddha.
2. Sutrantapitaka,
berisi tentang wejangan – wejangan atau ajaran sang Buddha.
3. Abidharmapitaka,
berisi tentang penjelasan dan uraian mengenai agama Buddha.
Dalam
perkembangannya, agama Buddha pecah menjadi dua aliran, yaitu aliran Hinayana dan aliran Mahayana.
v Aliran Hinayana
Hinayana berasal dari bahasa Pali dan Sansekerta
terdiri dari kata Hina (kecil) dan Yana (kendaraan). Penganut-penganut hinayana menitikberatkan meditasi untuk mencapai
penerangan sempurna sebagai jalan yang terpendek dalam menyelami dhamma dan
mencapai pembebasan atau Nibbana. Aliran Hinayana disebut
juga aliranTheravada. Hinayana merupakan aliran agama Buddha yang menekankan
kemurnian dan keotentikkan ajaran agama Buddha sesuai dengan yang diajarkan
Buddha Siddharta Gautama. Aliran Hinayana menggunakan bahasa pali dalam
peribadatan dan teks Tripitaka.
Pokok ajaran dalam Hinayana antara lain :
1. Segala
sesuatu itu bersifat fana serta hanya berada untuk sesaat saja.
2. Dharma
– dharma itu suatu kenyataan
Kitab suci Hinayana:
·
Vinaya
Pitaka, (peraturan – peraturan golongan para bikhsu) bicara mengenai Sangha. Terdiri dari 3
buah tulisan yang yang membicarakan peraturan-peraturan tata-tertib bagi para
bhiksu.
·
Sutta Pitaka, (keranjang pengajaran). Memuat 4
buah kumpulan yang besar dari pelajaran buddha. terdiri dari bermacam-macam
ceramah yang diberikan oleh Buddha.
·
Abhimdhamma Pitaka, berisi analisis ajaran
Buddha. Terdiri dari 7 buah naskah, yang merupakan uraian-uraian ilmiah yanmg
kering tentang dogmatika.
Ciri
– ciri Hinayana:
1.
Berfikir
realism Phsikologis
2.
Menolak
keberadaan sejati dan metafisika
3.
Buddha
dipuja sebagai manusia normal yang mempunyai kelebihan tidak lebih
4.
Nibbana
adalah hasil usaha sendiri dan jasa hanya dapat menginspirasi orang lain
5.
Nibbana
adalah tujuan tertinggi dan akhjir dari npenderitaan
6.
Bodhisatwa
adalah calon Buddha yang belum sempurna dalam penerangan
Dalam
Hinayana, terdapat 10 Paramita (kebajikan), yaitu:
s Dana
s Sila
s Nekkhamma
s Panna
s Viriya
s Kshanti
s Sacca
s Adhitthana
s Metta
s Upekkha
v Aliran
Mahayana
Mahayana berasal dari bahasa Sanskerta: महायान.
Mahāyāna yang secara harafiah berarti ‘Kendaraan Besar’ adalah satu dari dua
aliran utama Agama Buddha dan merupakan istilah pembagian filosofi
dan ajaran Sang Buddha. Mahayana, yang dilahirkan di India, digunakan
atas tiga pengertian utama:
1. Sebagai
tradisi yang masih berada, Mahayana merupakan kumpulan terbesar dari dua
tradisi Agama Buddha yang ada hari ini, yang lainnya adalahTheravada. Pembagian
ini seringkali diperdebatkan oleh berbagai kelompok.
2. Menurut
cara pembagian klasifikasi filosofi Agama Buddha berdasarkan aliran Mahayana,
Mahayana merujuk kepada tingkat motifasi spiritual. (yang dikenal juga dengan
sebutan Bodhisattvayana) Berdasarkan pembagian ini, pendekatan pilihan
yang lain disebut Hinayana, atau Shravakayana. Hal ini juga dikenal dalam
Ajaran Theravada, tetapi tidak dianggap sebagai pendekatan yang sesuai.
3. Menurut
susunan Ajaran Vajrayana mengenai pembagian jalur pengajaran,
Mahayana merujuk kepada satu dari tiga jalan menuju pencerahan, dua lainnya
adalah Hinayana dan Vajrayana. Pembagian pengajaran dalam Agama Buddha
Vajrayana, dan tidak dikenal dalam ajaran Agama Buddha Mahayana dan Theravada.
Kitab – kitab Mahayana:
·
Karandavyuha
·
Saddharmapandarika
·
Lankavara sutra
·
Avatamkara sutra
·
Vajraccedhika sutra
Negara yang menganut ajaran Mahayana
sekarang ini adalah:
1) Nepal
– Tibet – Mongolia
2) Cina
– Jepang – Korea
3) Vietnam
4) Indonesia
Pimpinan besar Mahayana:
o
Nagarjuna, yaitu pimpinan sangha yang ke
– 14. Beliau mendirikan suatu perguruan mistik yang bernama Madhyamika.
o
Aryasangha, yaitu pimpinan Sangha pada
abad ke-4 M. Beliau mengajarkan Yogacara dan ajaran bahwa kesadaran adalah yang
sejati.
o
Canti Deva,
yaitu pimpinan Mahayana terakhir. Beliau mengarang kitab Ciksasammucchaya dan
Bodhicaryavatara.
Dalam Mahayana, terdapat 6 Paramita dan 4 Paramita
tambahan, yaitu:
s Dana
s Cila
s Ksanti
s Virya
s Dhyana
Paramita Tambahan:
s Prajna
s Upaya-kaucalya
s Pranidhana
s Bala
s Jnana
Sekte-sekte dalam Mahayana:
1) Sekte
Madhyamikavada
2) Sekte Kebaktian
3) Sekte Bumi-Suci
4) Sekte Yogacara
5) Sekte Meditasi
(Dhyana)
Sabtu, 11 Januari 2014
Cerpen 2
hai.. aku balik nih. mau ngepost lagi.
o iya, Happy New Year! -telat gak sih? (wkwk)-
kali ini, aku bakal ngepost cerpen karyaku... iseng2 aja sih bikinnya.. ;))
okey. dibaca ya.. terus kasih kritik kalo jelek. maaf juga :) "Manusia tak luput dari kesalahan bukan?"
cekidot~
tema : kasih sayang (sebenernya gatau temanya apa-terserah deh temanya apaan -_\/)
o iya, Happy New Year! -telat gak sih? (wkwk)-
kali ini, aku bakal ngepost cerpen karyaku... iseng2 aja sih bikinnya.. ;))
okey. dibaca ya.. terus kasih kritik kalo jelek. maaf juga :) "Manusia tak luput dari kesalahan bukan?"
cekidot~
tema : kasih sayang (sebenernya gatau temanya apa-terserah deh temanya apaan -_\/)
Aku Juga Ingin
Seperti Kakak
“Jovita! Ayo sayang
cepat turun. Nanti kamu terlambat loo.. Mama sudah siapkan sarapan untukmu.”
seru Mama dari lantai bawah sambil menyiapkan sarapan pagi.
“Iya Ma. Sebentar lagi
aku turun.” Seru Kak Jovita menjawab seruan Mamanya.
Sambil bersiap akan
turun, ia melihat adiknya yang sedang terdiam dengan wajah sedih sambil memegang
tas dipundaknya.
“Nadine. Kamu sedang
apa? Kog pagi – pagi udah ngelamun sih. Ayo turun. Nanti telat.” Ucap Kak
Jovita kepada Nadine dengan seyum.
“Eeh.. Iya Kak.
Sebentar lagi aku turun. Aku cuman mau nginget – nginget aja. Kayak ada yang
ketinggalan. Kakak turun dulu saja, nanti aku nyusul.” Ucap Nadine.
“Oh. Oke.”
Kak Jovita pergi
meninggalkan Nadine dan segera turun menuju ruang makan untuk sarapan.
“Pagi sayang.” Ucap
Mama menyambut Kak Jovita.
“Pagi Ma.”
“Nadine mana? Kog nggak
turun – turun. Itu anak emang yahh.. cari gara gara aja.” Ucap Mama dengan
wajah sedikit kesal.
“Katanya sebentar lagi
turun kog Ma.”
Mama berjalan
meninggalkan ruang makan. Dan menuju lantai atas. Wajah Mama terlihat kesal.
Mama mellihat Nadine yang sedang berdiri di depan kamarnya. Posisinya seperti
tadi ketika ia sedang berbicara dengan Kakaknya.
“Nadine! Ngapain kamu
di situ?! Malah bengong berdiri gak jelas. Cepat sana turun! Ini sudah siang!
Nanti kalau kamu terlambat Mama yang rugi!” ucap Mama membentak Nadine hingga
Nadine tersentak kaget.
“Mama. Iya Ma...”
Mama berjalan pergi
meninggalkan Nadine di lantai atas. Dan berjalan turun ke lantai bawah. Mama
menghampiri Kak Jovita di meja makan. Ia membelai lembut anak perempuan
kesayangannya itu. Dengan senyum tersungging dibibirnya.
Nadine melihat semua
itu dari dekat tangga tak jauh dari Mama dan Kak Jovita berada. Air mata mulai
menetes dari mata bulatnya yang indah. Dan air mata itu telah membasahi
pipinya. Ia tak sadar, bahwa ia sedang menangis. Setelah sadar, ia menangis dan
sudah hampir 5 menit berdiri di sana, ia segera menghapus air matanya. Lalu,
berjalan perlahan mendekati meja makan dan duduk di kursi.
Nadine tak banyak
bicara. Ia langsung memakan roti dihadapannya dengan perlahan. Tatapannya
kosong. Lurus ke depan. Ia tak berani menoleh ke kiri. Karena ia takut. Ia
takut akan menangis lagi.
***
Mama memang selalu
begitu. Berlaku tak adil terhadap kakak beradik se-ayah se-ibu ini. Padahal,
mereka sama – sama anak kandungnya! Tetapi, Mama selalu lebih perhatian
terhadap Kak Jovita. Sedangkan pada Nadine, Mama tak pernah memberi perhatian
yang cukup. Nadine diperlakukan layaknya anak tiri.
Ini terjadi sejak 4
tahun silam. Sejak Papa Nadine meninggal karena kecelakaan. Saat itu Nadine
masih berusia 5 tahun. Papa Nadine sangat sayang pada Nadine. Hingga suatu
malam ketika hujan deras mengguyur kotanya, Nadine sakit dan harus dibawa ke
dokter. Papa Nadine membawa Nadine ke rumah sakit dengan mobil berkecepatan
tinggi. Ia khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada Nadine. Ketika papa
menoleh melihat keadaan Nadine, Truk besar yang juga melaju kencang berada di
depan mobil Papa. Papa berusaha menghindar. Mobil kehilangan kendali dan
akhirnya terjadi kecelakaan. Nadine berhasil diselamatkan dalam kecelakaan ini.
Namun, Papa Nadine meninggal dunia ketika dibawa ke rumah sakit.
Sejak kejadian ini,
Mama begitu benci melihat Nadine. Mama selalu teringat kejadian menyedihkan 4
tahun silam.
***
Dari kejauhan Nadine melihat Asha sahabatnya
dengan Ibu Asha di depan gerbang sekolah.
“Sayang. Belajar yang
rajin ya. Yang pinter. Jangan nakal loh.” Ucap Ibu Asha sambil membelai rambut
Asha dengan lembut dan senyum kehangatan.
“Iya Ma. Pasti. Kan aku
sudah besar. Sudah ya Ma. Aku masuk dulu. Nanti aku terlambat nih.” Ucap Asha.
“Iihh.. kamu masih
kecil sayang..” sambil mencubit hidung Asha. “Ya sudah sana masuk. Hati – hati
ya sayang.” Mama mencium kening Asha.
“Dah Ma.”
Asha yang sudah melihat
Nadine sejak tadi, segera menghampiri sahabatnya itu. Dan mereka masuk ke kelas
bersama.
“Asha! Enak ya jadi
kamu. Mama kamu baik banget. Sayang sama kamu, perhatian. Aku pengen punya mama
kayak Mama kamu.” Ucap Nadine tiba – tiba.
“Memangnya, Mama kamu
nggak sayang sama kamu Nadine?” tanya Asha pada Nadine.
“Mmm.. Sayang kog.
Tapi..”
“Tapi apa?”
“Tapi Mama lebih sayang
Kak Jovita.”
Asha diam. Dan
tersenyum. “Kamu bisa anggap Mama aku sebagai Mama kamu juga.”
“Beneran? Makasih ya
Asha! Kamu emang sahabat aku yang paling baik!” ucap Nadine senang.
“Pulang sekolah nanti main ke rumahku yuk.”
“Mmm.. gimana yah? Aku
takut dimarahin Mama.”
“Sebentar aja kog. Aku
nggak punya temen di rumah. Mau yah Pliiss..”
“Iya deh.”
Sepulang sekolah,
Nadine langsung ke rumah Asha. Di sana mereka bermain bersama. Nadine terlihat
bahagia.
Hingga tak terasa hari
sudah mulai gelap. Nadine pulang ke rumahnya diantar oleh Mama Asha.
Nadine masuk ke dalam
rumah. Di ruang tamu terlihat Mama sedang duduk sambil melipat tangan di
dadanya. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang tidak mengenakkan. Mama terlihat
kesal. Tidak kesal lagi, melainkan Mama terlihat akan marah besar.
Mama berdiri dan
menghampiri Nadine.
“Kamu tau ini sudah
malam?! Sudah jam berapa ini?! Kamu baru pulang?! Dasar anak tidak tau diri!
Tidak tau diuntung! Pulang sekolah bukannya ke rumah, malah kelayapan!” bentak
Mama sambil menjewer telinga Nadine.
“Ampun Ma.. ampun,
ampun Ma.. Nadine gak kelayapan Ma. Nadine cuman pengen main ke rumah Asha.
Hiks hiks.” Ucap Nadine meminta ampun sambil menangis.
“Masih berani mengelak
ternyata. Dasar anak pembawa sial!”
“Huwee...!! huhuhu..
ampun Ma ampun.. Nadine janji Ma nggak akan ngulangin lagi.”
“Sudah sana masuk
kamar!” ucap Mama sambil mendorong Nadine dengan kasar. “Kalau kamu masih
berani mengulangi ini lagi! Mama nggak akan kasih ampun ke kamu! Ngerti?!”
“Ngerti Ma..”
Nadine berjalan ke
kamarnya. Di kamar ia menangis sekencang – kencangnya. Namun, ia mencoba
menahan suara tangisnya. Ia takut kemarahan Mamanya semakin menjadi – jadi.
Tak lama, terdengar bel
berbunyi. Kak Jovita pulang. Nadine beranjak dari tempat tidur. Ia membuka
pintu kamarnya sedikit. Melihat kakaknya sedang disambut senyum Mama yang penuh
kehangatan dan kasih sayang tanpa kemarahan, kejengkalan, dan kebencian. Mama
menyambut Kak Jovita dengan senang. Dengan ketulusan. Dengan kehangatan senyum
yang selalu didambakan Nadine.
Nadine kembali
meneteskan air mata tanpa sadar. Pipi mungilnya itu basah seketika. Ia ingin
seperti kakaknya, Kak Jovita!
***
“Ma! Lihat nilaiku
bagus kan?” ucap Kak Jovita sambil menunjukkan kertas ujiannya.
“Wah! Iya, hebat anak
mama. Mama bangga sama kamu sayang.” Ucap Mama kepada Kak Jovita.
Kak Jovita tersenyum
lebar. Mamapun begitu. Mereka berpelukan.
Dari jauh, Nadine
melihat ini. Nadine ingin membuat Mama bangga padanya.
Aku
juga ingin Mama bangga sama aku. Kalau Mama bangga liat nilai Kak Jovita yang
bagus. Berarti Mama juga akan bangga kalau nilai ujianku bagus. Aku harus rajin
belajar! Supaya nilai ujianku bagus. Dan Mama bangga. Mungkin setelah itu Mama
akan berubah menjadi sayang sama aku.
***
Sejak kejadian itu.
Nadine memang benar – benar belajar dengan sungguh – sungguh. Hingga suatu
hari, ia ujian. Dan nilainya sungguh sangat sempurna. Sepulangnya setelah ia
mendapat hasil ujian itu. Ia pulang dengan senyum lebar.
Di ruang keluarga,
terlihat Mama sedang membaca majalah dengan santai. Nadine menghampiri Mama.
“Mama..” ucap Nadine
perlahan. Namun, Mama tak menjawab. Lalu Nadine melanjutkan. “Ma, Nadine hanya
ingin menunjukkan sesuatu pada Mama.” Nadhine mengulurkan kertas ujiannya.
“Apa itu?” tanya Mama
ketus tanpa kasih sayang sedikitpun.
“Ini.. kertas ujianku
Ma. Aku mendapat nilai sempurna. Dan aku ingin Mama tau.” Mama diam tanpa
respon apapun, dan tetap membaca majalah. “Ma.. Nadine mohon, lihatlah Ma. Nadine
hanya ingin Mama bangga pada Nadine. Seperti halnya Mama bangga pada Kak
Jovita.”
Saat itu, Kak Jovita
sedang hendak ke dapur dan mendengar namanya disebut, Kak Jovita menghentikan
langkahnya. Dan melihat ke arah Nadine dan Mama berada.
“Ma. Nadine mohon..” Mama
tetap terdiam.
“Ma. Nadine hanya ingin
diperlakukan sama di rumah ini. Nadine juga ingin seperti Kakak! Nadine ingin
disayang Mama.... Mama lebih sayang Kakak. Mama tak pernah marah pada Kak
Jovita. Tak pernah jengkel. Sedangkan pada Nadine... Mama selalu marah,
jengkel, benci, dan nggak pernah memberi perhatian pada Nadine. Nadine juga
butuh perhatian Mama.. Apalagi... Nadine masih kecil Ma! Nadine masih anak –
anak yang butuh kasih sayang orang tuanya.. Apa Mama benci Nadine karna Papa
meninggal karena Nadine?”
Dari kejauhan Kak
Jovita menangis.
“Jangan coba – coba
kamu sebut lagi kata – kata Papa!” sentak Mama.
“Jawab Ma.. Apa iya?
Apa itu penyebabnya Mama begitu membenci Nadine selama ini?” Nadine menangis
terisak – isak.
“Iya! Kalau iya memang
kenapa? Setiap Mama melihatmu, Mama selalu teringat Papamu Nadine..! Kamu
begitu mirip dengan Papamu. Puas kamu?”
“Belum Ma. Nadine belum
puas. Nadine akan puas kalau Mama sayang, perhatian sama Nadine. Dan Mama
bilang ke Nadine Mama Sayang Nadine.”
“Mau kamu apa? Dasar
anak pembawa sial!” Mama menampar Nadine dengan keras.
Hingga Nadine menangis
kencang. Bersamaan Kak Jovita berteriak “Mama?!”
Nadine berlari kencang
keluar rumah.
“Apa yang Mama lakukan?
Nadine masih kecil Ma! Semua yang dia katakan itu benar. Nadine anak yang hebat
Ma! Nadine sekecil itu bisa punya pikiran yang luar biasa. Harusnya Mama bangga
punya anak seperti Nadine!” Ucap Kak Jovita kesal dan segera berlari menyusul
Nadine.
Mama tersentuh omongan
Kak Jovita. Mama merasa bersalah. “Nadine..” Akhirnya Mama juga menyusul
Nadine.
Saat Nadine menyebrang
jalan raya ia tak melihat kiri kanan. Hingga ada mobil yang sedang melaju ia
tak sadar.
“Nadine awas !!!” Kak
Jovita berteriak kencang.
“Aaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!”
Nadine tertabrak mobil.
Badannya terkepar di jalan. Darah mengalir di kepalanya.
“Nadine!!!!!!!!!!!!!!”
teriak Kak Jovita syok melihat Nadine tertabrak mobil.
Sang pengemudi segera
keluar dari mobil. Banyak orang berlarian menghampiri. Mama datang. Mama kaget
dan menangis di sana.
“Nadine.. maffkan Mama
sayang..”
Sang pengemudi yang
menabrak meminta maaf dan seger membantu mengantar Nadine ke rumah sakit.
Tubuh Nadine terkulai
lemas di ruang UGD. Mama menangis menyesali perbuatannya selama ini. Kak Jovita
pun merasa bersalah.
Seharusnya
sebagai kakak yang baik aku harus bisa menjaga adikku. Bukannya bahagia sendiri
di atas penderitaan adikku.. dan seharusnya aku menyadari perasaannya selama
ini..
***
Di kamar inap Nadine.
Nadine sadar. Jemarinya bergerak perlahan. Matanya mulai terbuka perlahan. Kak
Jovita yang melihat ini, segera memberi tahu Mama. Mama dan Kak Jovita mendekat
ke Nadine. Ketika mata Nadine terbuka, yang pertama kali ia lihat adalah Mama.
“Nadine.. kamu sadar?”
ucap Mama.
“Nadine..” ucap Kak
Jovita.
“Nadine ada dimana?”
tanya Nadine kebingungan sambil melihat kiri kanan.
“Kamu ada di rumah
sakit sayang.. Kamu mengalami kecelakaaan.”
“Mama..” ucap Nadine
lirih. Ia setengah kaget dan senang.
“Mama sayang Nadine.”
Ucap Mama tersenyum dan meneteskan air mata.
“Aku juga Sayang
Mama..” ucap Nadine. Nadine menutup matanya. Itulah kata kata terakhir yang ia ucapkan. Sebelum ia
tiada di dunia ini.
“Nadine!!!!!!!!” ucap
Mama dan Kak Jovita bersamaan.
Mama memeluk Nadine
erat – erat.
Kini, Nadine bahagia di
surga sana. Karena ia telah mendengar kata – kata “Mama Sayang Nadine” dari Mamanya.
Dan ia telah
mendapatkan keinginannya selama ini yaitu ingin seperti Kakaknya, Kak Jovita.
~TAMAT~
Gimana? udah baca? bagus gak? -jelek- haha -_-
Sekian dan Terima Kasih :)
Sampai Jumpa Lagi!
see you pai pai
Senin, 23 Desember 2013
IPS Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia
Kerajaan Aceh, Kerajaan Mataram Islam, dan Kerajaan Demak.
- Amangkurat I
(1645-1676) Pemerintahannya yang diwarnai dengan
banyak pembunuhan/kekejaman. Ibukota kerajaan Mataram dipindahkan ke
Kerta.
- Terjadinya
perang saudara atau dikenal dengan sebutan PerangPerebutan Mahkota I
(1704-1708). Akhirnya Amangkurat III menyerah dan ia dibuang keSailan oleh VOC.
- Pada masa Amangkurat
IV (1719-1727) atau dikenal dengan sebutan Sunan Prabu, dipenuhi dengan pemberontakan para bangsawan
yang menentangnya, dan seperti biasa VOC turut andil pada konflik ini,
sehinggga konflik membesar dan terjadilah Perang Perebutan MahkotaII
(1719-1723). VOC berpihak pada Sunan Prabu sehingga para pemberontak berhasil ditaklukkan
dan dibuang VOC ke Sri Langka dan Afrika Selatan.
- Sunan Prabu
meninggal tahun 1727 dan diganti oleh Paku Buwana II (1727-1749). Pada masa
pemerintahannya terjadi pemberontakan China terhadap VOC.
Kerajaan Aceh
Kesultanan Aceh
merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di provinsi Aceh, Indonesia. Kerajaan ini
berdiri pasca keruntuhan Kerajaan Samudra Pasai karena ditundukkan oleh
Kerajaan Majapahit pada tahun 1360. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota
Kutaraja. Secara geografis letak kesultanan Aceh sangat strategis yaitu di
Pulau Sumatera bagian utara dan dekat dengan jalur pelayaran perdagangan
internasional pada masa itu, yaitu di sekitar Selat Malaka.
Sultan pertama yang
memerintah dan sekaligus pendiri Kerajaan Aceh adalah Sultan Ali Mughayat Syah
(1514-1528 M).
Faktor – faktor yang
mendukung kerajaan aceh tumbuh dengan cepat menjadi kerajaan besar :
1) Letak
Ibu kota Aceh yang sangat strategis.
2) Pelabuhan
Aceh ( Olele ) memiliki persyaratan yang baik sebagai pelabuhan dagang.
3) Daerah
Aceh kaya dengan tanaman lada sebagai mata dagangan ekspor yang penting.
4) Jatuhnya
Malaka ke tangan Portugis menyebabkan pedagang Islam banyak yang singgah ke
Aceh.
Kerajaan Aceh mencapai
masa keemasannya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636).
Raja – raja yang pernah memerintah di Kerajaan Aceh :
1. Sultan Ali Mughayat Syah
1. Sultan Ali Mughayat Syah
Adalah raja kerajaan Aceh yang pertama. Ia memerintah tahun 1514 – 1528 M.
Di bawah kekuasaannya, Kerjaan Aceh melakukn perluasan ke beberapa daerah yang
berada di daerah Daya dan Pasai. Bahkan melakukan serangan terhadap kedudukan
bangsa Portugis di Malaka dan juga menyerang Kerajaan Aru.
2. 2. Sultan Salahuddin
Setelah Sultan Ali Mughayat Wafat, pemeintahan beralih kepada putranya yg
bergelar Sultan Salahuddin. Ia memerintah tahun 1528 – 1537 M, selama menduduki
tahta kerajaan ia tidak memperdulikan pemerintahaan kerajaannya. Keadaan
kerajaan mulai goyah dan mengalami kemerosostan yg tajam. Oelh karena itu,
Sultan Salahuddin digantiakan saudaranya yg bernama Alauddin Riayat Syah
al-Kahar.
3. 3. Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar
Ia memerintah Aceh dari tahun 1537 – 1568 M. Ia melakukan berbagai bentuk
perubahan dan perbaikan dalam segala bentuk pemeintahan Kerajaan Aceh.
Pada masa pemeintahannya, Kerajaan Aceh melakukan perluasaan wilayah
kekuasaannya seperti melakukan serangan terhadap Kerajaan Malaka ( tetapi
gagal ). Daerah Kerajaan Aru berhasil diduduki. Pada masa pemerintahaannya,
kerajaan Aceh mengalami masa suram. Pemberontakan dan perebutan kekuasaan
sering terjadi.
4. 4. Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh tahun 1607 – 16 36 M. Di
bawah pemerintahannya, Kerjaan Aceh mengalami kejayaan. Kerajaan Aceh tumbuh
menjadi kerjaan besar adn berkuasa atas perdagangan Islam, bahakn menjadi
bandar transito yg dapat menghubungkan dgn pedagang Islam di dunia barat.
Untuk mencapai kebesaran Kerajaan Ace, Sultan Iskandar Muda meneruskan
perjuangan Aceh dgn menyerang Portugis dan Kerajaan Johor di Semenanjung
Malaya. Tujuannya adalah menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan
menguasai daerah – daerah penghasil lada. Sultan Iskandar Muda juga menolak
permintaan Inggris dan Belanda untuk membeli lada di pesisir Sumatera bagian
barat. Selain itu, kerajaan Aceh melakukan pendudukan terhadap daerah – daerah
seperti Aru, pahang, Kedah, Perlak, dan Indragiri, sehingga di bawah
pemerintahannya Kerajaan aceh memiliki wilayah yang sangat luas.
Pada masa kekeuasaannya, terdapat 2 orang ahli tasawwuf yg terkenal di Ace,
yaitu Syech Syamsuddin bin Abdullah as-Samatrani dan Syech Ibrahim as-Syamsi.
Setelah Sultam iskandar Muda wafat tahta Kerajaan Aceh digantikan oleh
menantunya, Sultan Iskandar Thani.
5. 5. Sultan Iskandar Thani.
Ia memerinatah Aceh tahun 1636 – 1641 M. Dalam menjalankan pemerintahan, ia
melanjutkan tradisi kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Pada masa pemerintahannya,
muncul seorang ulama besar yg bernama Nuruddin ar-Raniri. Ia menulis buku
sejarah Aceh berjudul Bustanu’ssalatin. Sebagai ulama besar, Nuruddin
ar-Raniri sangat di hormati oleh Sultan Iskandar Thani dan keluarganya serta
oleh rakyat Aceh. Setelah Sultan Iskandar Thani wafat, tahta kerjaan di pegang
oleh permaisurinya ( putri Sultan Iskandar Thani ) dgn gelar Putri Sri Alam
Permaisuri ( 1641-1675 M ).
Corak pemerintahan di
Aceh terdiri atas dua sistem: pemerintahan sipil di bawah kaum bangsawan,
disebut golongan teuku; dan pemerintahan atas dasar agama di bawah kaum ulama,
disebut golongan tengku atau teungku.
Penyebab Kemunduran Kerajaan Aceh
* - Setelah Sultan Iskandar Muda wafat tahun 1030, tidak ada raja – raja besar yang
mampu mengendalikan daerah Aceh yang demikian luas. Di bawah Sultan Iskandar
Thani ( 1637 – 1641 ), sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda, kemunduran itu
mulai terasa & terlebih lagi setelah meninggalnya Sultan Iskandar Thani.
* - Timbulnya pertikaian yang terus menerus
di Aceh antara golongan bangsawan ( teuku ) dgn golongan utama ( teungku ) yang mengakibatkan melemahnya Kerajaan Aceh. Antara golongan ulama sendiri
prtikaian terjadi karena perbedaan aliran dalam agama ( aliran Syi’ah dan Sunnah
wal Jama’ah )
* - Daerah kekuasaannya banyak yang melepaskan diri seperti Johor, Pahang,
Perlak, Minangkabau, dan Siak. Negara – negara itu menjadikan daerahnya sebagai negara merdeka kembali, kadang – kadang di bantu bangsa asing yang
menginginkan keuntungan perdagangan yang lebuh besar.
Kerajaan Mataram
Islam
Kesultanan Mataram
adalah kerajaan Islam
di Pulau Jawa yang pernah berdiri pada abad ke-17. Kerajaan Mataram berkembang
dari sebuah kadipaten yang saat itu di bawah kekuasaan Pajang. Wilayah Kerajaan
Mataram di daerah Jawa Barat selatan (pinggir Kota Jogjakarta sekarang).
Wilayah kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat.
Kerajaan Mataram Islam
didirikan oleh Ki Ageng Pemanahan dengan membuka alas mentaok sebagai hadiah
dari Sultan Hadiwijaya, raja Pajang. Kemudian Sutawijaya menjadi raja Mataram
pertama dengan gelar Panembahan Senapati (1586 – 1601). Kotagedhe sebagai
ibukotanya.
Tindakan-tindakannya yang penting,
antara lain sebagai berikut:
1)
Meletakkan dasar-dasar Kerajaan Mataram;
2)
Memperluas wilayah kekuasaan dengan menundukkan
Surabaya, Madiun, dan Ponorogo ke timur dan ke barat berhasil menundukkan
Cirebon dan Galuh.
Pengganti Panembahan Senopati ialah
Mas Jolang gugur di daerah Krapyak sehingga disebut Panembahan Seda Krapyak.
Raja terbesar Kerajaan Mataram ialah Mas Rangsang dengan gelar Sultan Agung
Hanyokrokusumo (1613–1645).Sultan Agung bercita-cita mempersatukan seluruh Jawa
di bawah kekuasaan Mataram dan mengusir Kompeni (VOC) dari Batavia.
Masa pemerintahan Sultan Agung yang
selama 32 tahun dibedakan atas dua periode, yaitu masa Penyatuan Kerajaan dan
masa Pembangunan. Masa Penyatuan Kerajaan (1613–1629) merupakan masa peperangan
untuk mewujudkan cita-cita menyatukan seluruh Jawa. Sultan Agung menundukkan
Gresik, Surabaya, Kediri, Pasuruan, dan Tuban. Selanjutnya, menundukkan Lasem,
Pamekasan, dan Sumenep, bahkan juga Sukadana di Kalimantan. Dengan demikian,
seluruh Jawa telah takluk di bawah Mataram bahkan sampai ke luar Jawa, yakni
Palembang, Sukadana, dan Goa.
Setelah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan
Cirebon berhasil dikuasai, Sultan Agung merencanakan untuk menyerang Batavia.
Serangan pertama dilancarkan pada bulan Agustus 1628 di bawah pimpinan Bupati
Baurekso dari Kendal dan Bupati Ukur dari Sumedang. Batavia dikepung dari darat
dan laut selama dua bulan, namun tidak mau menyera,h bahkan sebaliknya tentara
Mataram dipukul mundur.
Dipersiapkan serangan yang kedua
lebih matang dengan membuat pusat-pusat perbekalan makanan di Tegal, Cirebon,
dan Krawang. Serangan kedua dilancarkan bulan September 1629 di bawah pimpinan
Bupati Sura Agul-Agul, Mandurarejo, dan Uposonto. Namun, VOC telah mengetahui
lebih dahulu rencana tersebut. Hal itu dibuktikan dengan tindakan VOC membakar
dan memusnahkan gudang-gudang perbekalan. Serangan kedua Mataram ke Batavia
mengalami kegagalan karena kurangnya perbekalan makanan, kalah persenjataan,
jarak Mataram–Jakarta sangat jauh, dan tentara Mataram terjangkit wabah
penyakit.
Setelah Sultan Agung meninggal, takhta
kerajaan digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Amangkurat I
(1645–1677). Berbeda dengan ayahnya, raja ini tidak bijaksana dan cenderung
kejam dan kurang memperhatikan kepentingan rakyat. Banyak rakyat dan kaum
bangsawan tidak menyukainya.
Pengganti Amangkurat I
adalah putra mahkota yang bergelar Sultan Amangkurat II (1677–1703). Pada tahun
1703, Amangkurat II wafat, digantikan oleh putranya Sunan Mas dengan gelar
Sultan Amangkurat III yang anti kepada Belanda.
Raja-raja yang memerintah :
1. Panembahan Senopati
2. Sultan Anyakrawati
3. Sultan Agung Hanyakrakusuma
– Zaman keemasan
– Kebijakan Sultan Agung :
– Zaman keemasan
– Kebijakan Sultan Agung :
a) Menyatukan seluruh P.Jawa kecuali :
Banten, Cirebon, Mataram
b) Mengusir VOC 2x, namun gagal
c) membuat kalender Jawa
d) memadukan unsur Islam dengan budaya Jawa
e) meningkatkan kesejahteraan rakyat
melalui pertanian
f) menulis kitab Sastra Gendhing
g) wilayah kerajaan dibagi menjadi
Kutagara, Negara Agung, Mancanegara, daerah Pesisiran
4. Amangkurat
I
Pengaruh Belanda mulai masuk dan
berkembang di Kerajaan Mataram.
Th. 1755 Perjanjian Gianti
Th, 1757 Perjanjian Salatiga
Pengaruh Belanda mulai masuk dan
berkembang di Kerajaan Mataram.
Th. 1755 Perjanjian Gianti
Th, 1757 Perjanjian Salatiga
Penyebab runtuhnya
Kerajaan Mataram Islam:
Kerajaan Demak
Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di
Pulau Jawa. Sebelumnya kerajaan Demak merupakan keadipatian vazal dari kerajaan
Majapahit. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1500 hingga tahun
1550. Raden patah adalah bangsawan kerajaan Majapahit yang telah mendapatkan
pengukuhan dari Prabu Brawijaya yang secara resmi menetap di Demak dan mengganti
nama Demak menjadi Bintara.
Pada masa sebelumnya
Kerajaan Demak bernama Bintaro yang merupakan daerah Vasal atau bawahan
Kerajaan Majapahit. De Graaf dan Pigeud (1989) dalam uraiannya menjelaskan bahwa
Demak pada zaman dahulu terletak di pantai selat yang memisahkan pegunungan
Muria dari Jawa. Selat yang cukup lebar dan dapat dilayari kapal-kapal dagang
inilah yang memungkinkan Demak akhirnya menjadi satu pelabuhan yang terkenal.
Lapisan-lapisan sosial yang terdapat di Demak dapat
dikelompokkan kedalam 3 tingkatan, yaitu:
1. Lapisan
Atas. Kelompok masyarakat yang paling terpandang karena status atau tingkat
kehidupan ekonominya yang tinggi adalah
1) Raja
dan keluarganya,
2) Pejabat
tinggi kerajaan dan
3) Para
ulama besar/syekh.
Dalam
kisah-kisah tradisi disebutkan bahwa kerajaan Demak dikenal memiliki 5 imam,
yaitu
1) Pangeran
(Sunan) Bonang;
2) Makdum
Sampang;
3) Kiai
Gedeng Pambayun ing Langgar;
4) Penghulu
Rahmatullah dari Undung; dan
5) Pangeran
Kudus atau Pandita Rabani.
2. Lapisan
Tengah. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah
1) Para
imam dan santri;
2) Para
prajurit atau tentara;
3) Para
pedagang menengah;
4) Para
penjaga masjiddan makam suci; dan
5) Para
penulis kronik.
3. Lapisan
Bawah. Termasuk ke dalam lapisan ini adalah
1) Para
petani dan nelayan;
2) Para
tukang dan pengrajin;
3) Para
pedagangkecil; dan
4) Para
seniman.
Raja – raja Demak
mendapat penyebutan gelar Sultan.
Faktor-faktor pendorong kemajuannya
adalah sebagai berikut:
1.
Letaknya strategis di daerah pantai, sehingga terbuka
hubungan dengn dunia luar.
2.
Pelabuhan Bergota di Semarang merupakan pelabuhan
ekspor-impor yang penting bagi Demak.
3.
Memiliki sungai sebagai penghubung daerah pedalaman,
sehingga membantu pengangkutan hasil pertanian beras sebagai komoditas ekspor
utama.
4.
Runtuhnya Majapahit oleh Demak membuatnya berkembang
pesat.
Beberapa Raja yang
memerintah Kerajaan Demak:
1. Raden Patah
(1478 - 1518)
Raden Patah adalah pendiri dan raja pertama di Demak. Pada masa
pemerintahannya mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dengan bantuan para
wali, Demak diperluas hingga meliputi Jepara, Pati, Rembang, Semarang,
kepulauan di selat Karimata dan beberapa daerah di Kalimantan. Kerajaan ini
menguasai beberapa pelabuhan penting seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan dan
Gresik.
Perannya dalam penyebaran agama Islam sangatlah besar. Dengan bantuan
Sembilan Wali (Wali Songo), Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa
dan wilayah Nusantara bagian timur. Oleh para wali, di Demak didirikan Masjid Agung
Demak yang masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Raden Patah wafat tahun 1518 M, kemudian digantikan oleh putra
Mahkotanya Raden Pati Unus.
2. Pati Unus (
1518 - 1521 M )
Pati Unus berkuasa tahun 1518 M sampai tahun 1521 M. Karena jasanya
memimpin armada Demak dalam penyerangan ke Malaka, Pati Unus mendapatkan
sebutan "Pangeran Sabrang Lor".
Pemerintahan Pangeran Sabrang Lor tidak berlangsung lama, karena setelah 3
tahun memerintah beliau sakit dan wafat tahun 1521 M. Pati Unus meninggal tanpa
menurunkan anak. Sebagai penggantinya adalah adiknya yang bernama Raden
Trenggono yang kemudian bergelar Sultan Trenggono.
3. Sultan
Trenggono ( 1521 - 1546 )
Sultan Trenggono adalah adik Pati Unus dan putra ketiga Raden Patah. Di
bawah pemerintahannya wilayah Demak bertambah luas. Tahun 1522, armada laut
Demak di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) mengadakan penyerangan dimulai
dari Banten, Sunda Kelapa, kemudian ke Cirebon. Ketiga daerah ini semula berada
di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Pada saat itu juga Portugis bekerja sama
dengan Pajajaran untuk menguasai Sunda Kelapa.
Pada tahun 1527 M, Demak berhasil merebut Sunda Kelapa dari tangan
Portugis. Fatahillah menggantikan nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Saat
pemindahan nama ini ditetapkan sebagai berdirinya kota DKI Jakarta.
Sultan
Trenggono wafat pada tahun 1546 M.
Sepeninggal
Sultan Trenggono, di Demak terjadi perebutan kekuasaan antara putra sulung
Sultan Trenggono yang bernama Sunan Prawoto dengan Pangeran Sekar, kakak Sultan
Trenggono. Pangeran Sekar kalah dan meninggal, Kemudian, Sunan Prawoto menjadi
raja Demak.
Sunan
Prawoto tidak lama menjadi raja di Demak, terjadi pemberontakan oleh Arya
Penangsang anak Pangeran Sekar. Dalam peperangan itu, Sunan Prawoto gugur. Arya
Penangsang mendapat perlawanan dari menantu Sultan Trenggono yang bernama
Pangeran Hadiri (Sultan Kalinyamat), tetapi tidak berhasil. Pangeran Hadiri
meninggal oleh Arya Penangsang..
Perlawanan
dilanjutkan oleh Joko Tingkir, menantu Sultan Trenggono yang berasal dari
Tingkir Salatiga. Dengan siasat yang diajarkan Ki Ageng Pemanahan.
Pemberontakan Arya Penangsang (Adipati Jipang) dapat dipadamkan.
Siasat
tersebut antara lain dengan menampilkan Sutawijaya, anak Ki Ageng Pemanahan
yang baru berusia 16 tahun dijadikan sebagai Panglima perang. Akibatnya, Arya
Penangsang tidak tega membunuh, tetapi justru sebaliknya Arya Penangsang
terbunuh o;eh Sutawijaya.
Berkat
jasanya mengalahkan Arya Penangsang, Ki Ageng Pemanahan mendapat hadiah wilayah
di daerah Mataram yaitu Kota Gede dan sekitarnya. Sutawijaya dijadikan anak
angkat Joko Tingkir. Setelah menjadi raja, Joko Tingkir memindahkan pusat
pemerintahan Demak ke Pajang. Beberapa alasan Joko Tingkir memindahkan pusat
kerajaan ke Pajang adalah:
1.
Kerajaan Demak mengalami kehancuran
total akibat perang saudara yang berlarut-larut.
2.
Mendekati daerah pertanian yang
subur yaitu di sekitar Surakarta dan Klaten.
3.
Menjauhi musuh-musuh politiknya yang
ada di sekitar Demak.
4.
Mendekati daerah pendukungnya yaitu
di sekitar Tingkir dan Pajang.
Beberapa peninggalan
Kerajaan Demak adalah sebagai berikut :
·
Masjid Agung Demak yang di bangun oleh
Wali songo pada tahun 1478.
·
Piring Campa merupakan pemberian Ibu
Raden Patah yang bernama Putri Campa .
·
Pintu Bledeg / Pintu Petir dibuat oleh
Ki Ageng selo .
·
Saka Tatal merupakan saka ( tiang )
Utama Masjid Demak di buat oleh Wali Songo . Tiang buatan sunan Kalijaga
tersebut di buat dari tatal yang diikat dengan rumput rawadan . Tiang ini
mengandung pelajaran persatuan .
·
Bedug dan kentongan . Bedug ini karya
wali Songo berfungsi sebagai tanda umat Islam menjalankan salat lima waktu .
·
Dampar Kencana digunakan untuk tempat
duduk para sultan dan sekarang di gunakan untuk mimbar khutbah .
![]() |
| Saka Tatal |
Langganan:
Komentar (Atom)
