Selasa, 27 Mei 2014

Latihan Biologi Kelas 8 Online

haloo...
saya mau ngepost nih. ini sebenernya buat UH sih.. tpi gapapa deh, -_v

Minggu, 11 Mei 2014

Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai (Kutai Martadipura) adalah kerajaan bercorak hindu yang terletak di muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu Sungai Mahakam. Kerajaan Kutai berdiri sekitar abad ke-4.
Bukti sejarah tentang kerajaan Kutai adalah ditemukannya tujuh prasasti yang berbentuk yupa (tiang batu) tulisan yupa itu menggunakan huruf pallawa dan bahasa sansekerta. Yupa adalah tiang batu yang digunakan sebagai tiang untuk mengikat hewan korban yang dipersembahkan rakyat Kutai kepada dewa-dewa dalam kepercayaan mereka.
Adapun isi prasati tersebut menyatakan bahwa raja pertama Kerajaan Kutai bernama Kudungga. Ia mempunyai seorang putra bernama Asawarman yang disebut sebagai wamsakerta (pembentuk keluarga). Setelah meninggal, Asawarman digantikan oleh Mulawarman. Dari Raja Aswawarman menurunlah sampai Mulawarman, karena Mulawarman pun memeluk agama Hindu. Hal itu diketahui dari penyebutan bangunan suci untuk Dewa Trimurti. Bangunan itu disebut bangunan Wapraskewara dan di Gua Kembeng di Pedalaman Kutai ada sejumlah arca-arca agama Hindu seperti Siwa dan Ganesa.
Penggunaan nama Asawarman dan nama-nama raja pada generasi berikutnya menunjukkan telah masuknya pengaruh ajaran Hindu dalam kerajaan Kutai dan hal tersebut membuktikan bahwa raja-raja Kutai adalah orang Indonesia asli yang telah memeluk agama Hindu.
Keterangan tertulis pada prasasti yang mengatakan bahwa Raja Mulawarman pernah memberikan hartanya berupa minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.

Kerajaan Kutai runtuh pada masa pemerintahan Maharaja Dharma Setia. Dharma Setia sendiri terbunuh dalam peperangan melawan Aji Pangeran Anum Panji Mendapa dari Kesultanan Islam Kutai Kartanegara. Terbunuhnya Maharaja Dharma Setia ini menandakan berakhirnya Kerajaan Kutai sekaligus menjadikan Dharma Setia sebagai raja terakhir Kerajaan Kutai.

Agama Budha

Buddha artinya orang yang telah sadar dan ingin melepaskan diri dari samsara. Muncul sebagai protes terhadap perbedaan kasta, terutama kasta brahmana yang dianggap terlalu banyak mempunyai hak – hak istimewa, dan kasta kasta lain yang dianggap terlalu membedakan kedudukan seseorang. Semua itu dipandang kurang adil. Agama buddha diajarkan oleh Sidharta Gautama di India pada tahun ± 531 SM.
Kitab suci agama buddha yaitu Tripitaka artinya “Tiga Keranjang” yang ditulis dengan bahasa poli. Adapun yang dimaksud dengan Tiga Keranjang adalah:
1.     Winayapitaka, berisi tentang peraturan dan hukum yang menentukan cara hidup para pemeluk agama Buddha.
2.     Sutrantapitaka, berisi tentang wejangan – wejangan atau ajaran sang Buddha.
3.     Abidharmapitaka, berisi tentang penjelasan dan uraian mengenai agama Buddha.
Dalam perkembangannya, agama Buddha pecah menjadi dua aliran, yaitu aliran Hinayana dan aliran Mahayana.
v Aliran Hinayana
Hinayana berasal dari bahasa Pali dan Sansekerta terdiri dari kata Hina (kecil) dan Yana (kendaraan). Penganut-penganut hinayana menitikberatkan meditasi untuk mencapai penerangan sempurna sebagai jalan yang terpendek dalam menyelami dhamma dan mencapai pembebasan atau Nibbana. Aliran Hinayana disebut juga aliranTheravada. Hinayana merupakan aliran agama Buddha yang menekankan kemurnian dan keotentikkan ajaran agama Buddha sesuai dengan yang diajarkan Buddha Siddharta Gautama. Aliran Hinayana menggunakan bahasa pali dalam peribadatan dan teks Tripitaka.
Pokok ajaran dalam Hinayana antara lain :
1.     Segala sesuatu itu bersifat fana serta hanya berada untuk sesaat saja.
2.     Dharma – dharma itu suatu kenyataan
Kitab suci Hinayana:
·        Vinaya Pitaka, (peraturan – peraturan golongan para bikhsu) bicara mengenai Sangha. Terdiri dari 3 buah tulisan yang yang membicarakan peraturan-peraturan tata-tertib bagi para bhiksu.
·        Sutta Pitaka, (keranjang pengajaran). Memuat 4 buah kumpulan yang besar dari pelajaran buddha. terdiri dari bermacam-macam ceramah yang diberikan oleh Buddha.
·        Abhimdhamma Pitaka, berisi analisis ajaran Buddha. Terdiri dari 7 buah naskah, yang merupakan uraian-uraian ilmiah yanmg kering tentang dogmatika.
Ciri – ciri Hinayana:
1.     Berfikir realism Phsikologis
2.     Menolak keberadaan sejati dan metafisika
3.     Buddha dipuja sebagai manusia normal yang mempunyai kelebihan tidak lebih
4.     Nibbana adalah hasil usaha sendiri dan jasa hanya dapat menginspirasi orang lain
5.     Nibbana adalah tujuan tertinggi dan akhjir dari npenderitaan
6.     Bodhisatwa adalah calon Buddha yang belum sempurna dalam penerangan
Dalam Hinayana, terdapat 10 Paramita (kebajikan), yaitu:
s  Dana
s  Sila
s  Nekkhamma
s  Panna
s  Viriya
s  Kshanti
s  Sacca
s  Adhitthana
s  Metta
s  Upekkha

v Aliran Mahayana
Mahayana berasal dari bahasa Sanskerta: महायान. Mahāyāna yang secara harafiah berarti ‘Kendaraan Besar’ adalah satu dari dua aliran utama Agama Buddha dan merupakan istilah pembagian filosofi dan ajaran Sang Buddha. Mahayana, yang dilahirkan di India, digunakan atas tiga pengertian utama:
1.     Sebagai tradisi yang masih berada, Mahayana merupakan kumpulan terbesar dari dua tradisi Agama Buddha yang ada hari ini, yang lainnya adalahTheravada. Pembagian ini seringkali diperdebatkan oleh berbagai kelompok.
2.     Menurut cara pembagian klasifikasi filosofi Agama Buddha berdasarkan aliran Mahayana, Mahayana merujuk kepada tingkat motifasi spiritual. (yang dikenal juga dengan sebutan Bodhisattvayana) Berdasarkan pembagian ini, pendekatan pilihan yang lain disebut Hinayana, atau Shravakayana. Hal ini juga dikenal dalam Ajaran Theravada, tetapi tidak dianggap sebagai pendekatan yang sesuai.
3.     Menurut susunan Ajaran Vajrayana mengenai pembagian jalur pengajaran, Mahayana merujuk kepada satu dari tiga jalan menuju pencerahan, dua lainnya adalah Hinayana dan Vajrayana. Pembagian pengajaran dalam Agama Buddha Vajrayana, dan tidak dikenal dalam ajaran Agama Buddha Mahayana dan Theravada.
Kitab – kitab Mahayana:
·        Karandavyuha
·        Saddharmapandarika
·        Lankavara sutra
·        Avatamkara sutra
·        Vajraccedhika sutra
Negara yang menganut ajaran Mahayana sekarang ini adalah:
1)    Nepal – Tibet – Mongolia
2)    Cina – Jepang – Korea
3)    Vietnam
4)    Indonesia
Pimpinan besar Mahayana:
o   Nagarjuna, yaitu pimpinan sangha yang ke – 14. Beliau mendirikan suatu perguruan mistik yang bernama Madhyamika.
o   Aryasangha, yaitu pimpinan Sangha pada abad ke-4 M. Beliau mengajarkan Yogacara dan ajaran bahwa kesadaran adalah yang sejati.
o   Canti Deva, yaitu pimpinan Mahayana terakhir. Beliau mengarang kitab Ciksasammucchaya dan Bodhicaryavatara.
Dalam Mahayana, terdapat 6 Paramita dan 4 Paramita tambahan, yaitu:
s  Dana
s  Cila
s   Ksanti
s  Virya
s  Dhyana
Paramita Tambahan:
s  Prajna
s  Upaya-kaucalya
s  Pranidhana
s  Bala
s  Jnana
Sekte-sekte dalam Mahayana:
1)    Sekte Madhyamikavada
2)    Sekte Kebaktian
3)    Sekte Bumi-Suci
4)    Sekte Yogacara
5)    Sekte Meditasi (Dhyana)


Sabtu, 11 Januari 2014

Cerpen 2

hai.. aku balik nih. mau ngepost lagi.
o iya, Happy New Year! -telat gak sih? (wkwk)-

kali ini, aku bakal ngepost cerpen karyaku... iseng2 aja sih bikinnya.. ;))
okey. dibaca ya.. terus kasih kritik kalo jelek. maaf juga :) "Manusia tak luput dari kesalahan bukan?"

cekidot~
tema : kasih sayang (sebenernya gatau temanya apa-terserah deh temanya apaan -_\/)


Aku Juga Ingin Seperti Kakak

“Jovita! Ayo sayang cepat turun. Nanti kamu terlambat loo.. Mama sudah siapkan sarapan untukmu.” seru Mama dari lantai bawah sambil menyiapkan sarapan pagi.
“Iya Ma. Sebentar lagi aku turun.” Seru Kak Jovita menjawab seruan Mamanya.
Sambil bersiap akan turun, ia melihat adiknya yang sedang terdiam dengan wajah sedih sambil memegang tas dipundaknya.
“Nadine. Kamu sedang apa? Kog pagi – pagi udah ngelamun sih. Ayo turun. Nanti telat.” Ucap Kak Jovita kepada Nadine dengan seyum.
“Eeh.. Iya Kak. Sebentar lagi aku turun. Aku cuman mau nginget – nginget aja. Kayak ada yang ketinggalan. Kakak turun dulu saja, nanti aku nyusul.” Ucap Nadine.
“Oh. Oke.”
Kak Jovita pergi meninggalkan Nadine dan segera turun menuju ruang makan untuk sarapan.
“Pagi sayang.” Ucap Mama menyambut Kak Jovita.
“Pagi Ma.”
“Nadine mana? Kog nggak turun – turun. Itu anak emang yahh.. cari gara gara aja.” Ucap Mama dengan wajah sedikit kesal.
“Katanya sebentar lagi turun kog Ma.”
Mama berjalan meninggalkan ruang makan. Dan menuju lantai atas. Wajah Mama terlihat kesal. Mama mellihat Nadine yang sedang berdiri di depan kamarnya. Posisinya seperti tadi ketika ia sedang berbicara dengan Kakaknya.
“Nadine! Ngapain kamu di situ?! Malah bengong berdiri gak jelas. Cepat sana turun! Ini sudah siang! Nanti kalau kamu terlambat Mama yang rugi!” ucap Mama membentak Nadine hingga Nadine tersentak kaget.
“Mama. Iya Ma...”
Mama berjalan pergi meninggalkan Nadine di lantai atas. Dan berjalan turun ke lantai bawah. Mama menghampiri Kak Jovita di meja makan. Ia membelai lembut anak perempuan kesayangannya itu. Dengan senyum tersungging dibibirnya.
Nadine melihat semua itu dari dekat tangga tak jauh dari Mama dan Kak Jovita berada. Air mata mulai menetes dari mata bulatnya yang indah. Dan air mata itu telah membasahi pipinya. Ia tak sadar, bahwa ia sedang menangis. Setelah sadar, ia menangis dan sudah hampir 5 menit berdiri di sana, ia segera menghapus air matanya. Lalu, berjalan perlahan mendekati meja makan dan duduk di kursi.
Nadine tak banyak bicara. Ia langsung memakan roti dihadapannya dengan perlahan. Tatapannya kosong. Lurus ke depan. Ia tak berani menoleh ke kiri. Karena ia takut. Ia takut akan menangis lagi.
***
Mama memang selalu begitu. Berlaku tak adil terhadap kakak beradik se-ayah se-ibu ini. Padahal, mereka sama – sama anak kandungnya! Tetapi, Mama selalu lebih perhatian terhadap Kak Jovita. Sedangkan pada Nadine, Mama tak pernah memberi perhatian yang cukup. Nadine diperlakukan layaknya anak tiri.
Ini terjadi sejak 4 tahun silam. Sejak Papa Nadine meninggal karena kecelakaan. Saat itu Nadine masih berusia 5 tahun. Papa Nadine sangat sayang pada Nadine. Hingga suatu malam ketika hujan deras mengguyur kotanya, Nadine sakit dan harus dibawa ke dokter. Papa Nadine membawa Nadine ke rumah sakit dengan mobil berkecepatan tinggi. Ia khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada Nadine. Ketika papa menoleh melihat keadaan Nadine, Truk besar yang juga melaju kencang berada di depan mobil Papa. Papa berusaha menghindar. Mobil kehilangan kendali dan akhirnya terjadi kecelakaan. Nadine berhasil diselamatkan dalam kecelakaan ini. Namun, Papa Nadine meninggal dunia ketika dibawa ke rumah sakit.
Sejak kejadian ini, Mama begitu benci melihat Nadine. Mama selalu teringat kejadian menyedihkan 4 tahun silam.
***
 Dari kejauhan Nadine melihat Asha sahabatnya dengan Ibu Asha di depan gerbang sekolah.
“Sayang. Belajar yang rajin ya. Yang pinter. Jangan nakal loh.” Ucap Ibu Asha sambil membelai rambut Asha dengan lembut dan senyum kehangatan.
“Iya Ma. Pasti. Kan aku sudah besar. Sudah ya Ma. Aku masuk dulu. Nanti aku terlambat nih.” Ucap Asha.
“Iihh.. kamu masih kecil sayang..” sambil mencubit hidung Asha. “Ya sudah sana masuk. Hati – hati ya sayang.” Mama mencium kening Asha.
“Dah Ma.”
Asha yang sudah melihat Nadine sejak tadi, segera menghampiri sahabatnya itu. Dan mereka masuk ke kelas bersama.
“Asha! Enak ya jadi kamu. Mama kamu baik banget. Sayang sama kamu, perhatian. Aku pengen punya mama kayak Mama kamu.” Ucap Nadine tiba – tiba.
“Memangnya, Mama kamu nggak sayang sama kamu Nadine?” tanya Asha pada Nadine.
“Mmm.. Sayang kog. Tapi..”
“Tapi apa?”
“Tapi Mama lebih sayang Kak Jovita.”
Asha diam. Dan tersenyum. “Kamu bisa anggap Mama aku sebagai Mama kamu juga.”
“Beneran? Makasih ya Asha! Kamu emang sahabat aku yang paling baik!” ucap Nadine senang.
 “Pulang sekolah nanti main ke rumahku yuk.”
“Mmm.. gimana yah? Aku takut dimarahin Mama.”
“Sebentar aja kog. Aku nggak punya temen di rumah. Mau yah Pliiss..”
“Iya deh.”
Sepulang sekolah, Nadine langsung ke rumah Asha. Di sana mereka bermain bersama. Nadine terlihat bahagia.
Hingga tak terasa hari sudah mulai gelap. Nadine pulang ke rumahnya diantar oleh Mama Asha.
Nadine masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu terlihat Mama sedang duduk sambil melipat tangan di dadanya. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang tidak mengenakkan. Mama terlihat kesal. Tidak kesal lagi, melainkan Mama terlihat akan marah besar.
Mama berdiri dan menghampiri Nadine.
“Kamu tau ini sudah malam?! Sudah jam berapa ini?! Kamu baru pulang?! Dasar anak tidak tau diri! Tidak tau diuntung! Pulang sekolah bukannya ke rumah, malah kelayapan!” bentak Mama sambil menjewer telinga Nadine.
“Ampun Ma.. ampun, ampun Ma.. Nadine gak kelayapan Ma. Nadine cuman pengen main ke rumah Asha. Hiks hiks.” Ucap Nadine meminta ampun sambil menangis.
“Masih berani mengelak ternyata. Dasar anak pembawa sial!”
“Huwee...!! huhuhu.. ampun Ma ampun.. Nadine janji Ma nggak akan ngulangin lagi.”
“Sudah sana masuk kamar!” ucap Mama sambil mendorong Nadine dengan kasar. “Kalau kamu masih berani mengulangi ini lagi! Mama nggak akan kasih ampun ke kamu! Ngerti?!”
“Ngerti Ma..”
Nadine berjalan ke kamarnya. Di kamar ia menangis sekencang – kencangnya. Namun, ia mencoba menahan suara tangisnya. Ia takut kemarahan Mamanya semakin menjadi – jadi.
Tak lama, terdengar bel berbunyi. Kak Jovita pulang. Nadine beranjak dari tempat tidur. Ia membuka pintu kamarnya sedikit. Melihat kakaknya sedang disambut senyum Mama yang penuh kehangatan dan kasih sayang tanpa kemarahan, kejengkalan, dan kebencian. Mama menyambut Kak Jovita dengan senang. Dengan ketulusan. Dengan kehangatan senyum yang selalu didambakan Nadine.
Nadine kembali meneteskan air mata tanpa sadar. Pipi mungilnya itu basah seketika. Ia ingin seperti kakaknya, Kak Jovita!
***
“Ma! Lihat nilaiku bagus kan?” ucap Kak Jovita sambil menunjukkan kertas ujiannya.
“Wah! Iya, hebat anak mama. Mama bangga sama kamu sayang.” Ucap Mama kepada Kak Jovita.
Kak Jovita tersenyum lebar. Mamapun begitu. Mereka berpelukan.
Dari jauh, Nadine melihat ini. Nadine ingin membuat Mama bangga padanya.
Aku juga ingin Mama bangga sama aku. Kalau Mama bangga liat nilai Kak Jovita yang bagus. Berarti Mama juga akan bangga kalau nilai ujianku bagus. Aku harus rajin belajar! Supaya nilai ujianku bagus. Dan Mama bangga. Mungkin setelah itu Mama akan berubah menjadi sayang sama aku.
***
Sejak kejadian itu. Nadine memang benar – benar belajar dengan sungguh – sungguh. Hingga suatu hari, ia ujian. Dan nilainya sungguh sangat sempurna. Sepulangnya setelah ia mendapat hasil ujian itu. Ia pulang dengan senyum lebar.
Di ruang keluarga, terlihat Mama sedang membaca majalah dengan santai. Nadine menghampiri Mama.
“Mama..” ucap Nadine perlahan. Namun, Mama tak menjawab. Lalu Nadine melanjutkan. “Ma, Nadine hanya ingin menunjukkan sesuatu pada Mama.” Nadhine mengulurkan kertas ujiannya.
“Apa itu?” tanya Mama ketus tanpa kasih sayang sedikitpun.
“Ini.. kertas ujianku Ma. Aku mendapat nilai sempurna. Dan aku ingin Mama tau.” Mama diam tanpa respon apapun, dan tetap membaca majalah. “Ma.. Nadine mohon, lihatlah Ma. Nadine hanya ingin Mama bangga pada Nadine. Seperti halnya Mama bangga pada Kak Jovita.”
Saat itu, Kak Jovita sedang hendak ke dapur dan mendengar namanya disebut, Kak Jovita menghentikan langkahnya. Dan melihat ke arah Nadine dan Mama berada.
“Ma. Nadine mohon..” Mama tetap terdiam.
“Ma. Nadine hanya ingin diperlakukan sama di rumah ini. Nadine juga ingin seperti Kakak! Nadine ingin disayang Mama.... Mama lebih sayang Kakak. Mama tak pernah marah pada Kak Jovita. Tak pernah jengkel. Sedangkan pada Nadine... Mama selalu marah, jengkel, benci, dan nggak pernah memberi perhatian pada Nadine. Nadine juga butuh perhatian Mama.. Apalagi... Nadine masih kecil Ma! Nadine masih anak – anak yang butuh kasih sayang orang tuanya.. Apa Mama benci Nadine karna Papa meninggal karena Nadine?”
Dari kejauhan Kak Jovita menangis.
“Jangan coba – coba kamu sebut lagi kata – kata Papa!” sentak Mama.
“Jawab Ma.. Apa iya? Apa itu penyebabnya Mama begitu membenci Nadine selama ini?” Nadine menangis terisak – isak.
“Iya! Kalau iya memang kenapa? Setiap Mama melihatmu, Mama selalu teringat Papamu Nadine..! Kamu begitu mirip dengan Papamu. Puas kamu?”
“Belum Ma. Nadine belum puas. Nadine akan puas kalau Mama sayang, perhatian sama Nadine. Dan Mama bilang ke Nadine Mama Sayang Nadine.”
“Mau kamu apa? Dasar anak pembawa sial!” Mama menampar Nadine dengan keras.
Hingga Nadine menangis kencang. Bersamaan Kak Jovita berteriak “Mama?!”
Nadine berlari kencang keluar rumah.
“Apa yang Mama lakukan? Nadine masih kecil Ma! Semua yang dia katakan itu benar. Nadine anak yang hebat Ma! Nadine sekecil itu bisa punya pikiran yang luar biasa. Harusnya Mama bangga punya anak seperti Nadine!” Ucap Kak Jovita kesal dan segera berlari menyusul Nadine.
Mama tersentuh omongan Kak Jovita. Mama merasa bersalah. “Nadine..” Akhirnya Mama juga menyusul Nadine.
Saat Nadine menyebrang jalan raya ia tak melihat kiri kanan. Hingga ada mobil yang sedang melaju ia tak sadar.
“Nadine awas !!!” Kak Jovita berteriak kencang.
“Aaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!”
Nadine tertabrak mobil. Badannya terkepar di jalan. Darah mengalir di kepalanya.
“Nadine!!!!!!!!!!!!!!” teriak Kak Jovita syok melihat Nadine tertabrak mobil.
Sang pengemudi segera keluar dari mobil. Banyak orang berlarian menghampiri. Mama datang. Mama kaget dan menangis di sana.
“Nadine.. maffkan Mama sayang..”
Sang pengemudi yang menabrak meminta maaf dan seger membantu mengantar Nadine ke rumah sakit.
Tubuh Nadine terkulai lemas di ruang UGD. Mama menangis menyesali perbuatannya selama ini. Kak Jovita pun merasa bersalah.
Seharusnya sebagai kakak yang baik aku harus bisa menjaga adikku. Bukannya bahagia sendiri di atas penderitaan adikku.. dan seharusnya aku menyadari perasaannya selama ini..
***
Di kamar inap Nadine. Nadine sadar. Jemarinya bergerak perlahan. Matanya mulai terbuka perlahan. Kak Jovita yang melihat ini, segera memberi tahu Mama. Mama dan Kak Jovita mendekat ke Nadine. Ketika mata Nadine terbuka, yang pertama kali ia lihat adalah Mama.
“Nadine.. kamu sadar?” ucap Mama.
“Nadine..” ucap Kak Jovita.
“Nadine ada dimana?” tanya Nadine kebingungan sambil melihat kiri kanan.
“Kamu ada di rumah sakit sayang.. Kamu mengalami kecelakaaan.”
“Mama..” ucap Nadine lirih. Ia setengah kaget dan senang.
“Mama sayang Nadine.” Ucap Mama tersenyum dan meneteskan air mata.
“Aku juga Sayang Mama..” ucap Nadine. Nadine menutup matanya. Itulah kata  kata terakhir yang ia ucapkan. Sebelum ia tiada di dunia ini.
“Nadine!!!!!!!!” ucap Mama dan Kak Jovita bersamaan.
Mama memeluk Nadine erat – erat.
Kini, Nadine bahagia di surga sana. Karena ia telah mendengar kata – kata “Mama Sayang Nadine” dari Mamanya.
Dan ia telah mendapatkan keinginannya selama ini yaitu ingin seperti Kakaknya, Kak Jovita.


~TAMAT~


Gimana? udah baca? bagus gak? -jelek- haha -_-

Sekian dan Terima Kasih :)
Sampai Jumpa Lagi!

see you pai pai

Senin, 23 Desember 2013

IPS Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia

Kerajaan Aceh, Kerajaan Mataram Islam, dan Kerajaan Demak.

Kerajaan Aceh



Kesultanan Aceh merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di provinsi Aceh, Indonesia. Kerajaan ini berdiri pasca keruntuhan Kerajaan Samudra Pasai karena ditundukkan oleh Kerajaan Majapahit pada tahun 1360. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Kutaraja. Secara geografis letak kesultanan Aceh sangat strategis yaitu di Pulau Sumatera bagian utara dan dekat dengan jalur pelayaran perdagangan internasional pada masa itu, yaitu di sekitar Selat Malaka. 

Sultan pertama yang memerintah dan sekaligus pendiri Kerajaan Aceh adalah Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528 M).
 
Faktor – faktor yang mendukung kerajaan aceh tumbuh dengan cepat menjadi kerajaan besar :
1)     Letak Ibu kota Aceh yang sangat strategis.
2)     Pelabuhan Aceh ( Olele ) memiliki persyaratan yang baik sebagai pelabuhan dagang.
3)     Daerah Aceh kaya dengan tanaman lada sebagai mata dagangan ekspor yang penting.
4)     Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menyebabkan pedagang Islam banyak yang singgah ke Aceh.

Kerajaan Aceh mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636). 
Raja – raja yang pernah memerintah di Kerajaan Aceh :

      1.  Sultan Ali Mughayat Syah
           Adalah raja kerajaan Aceh yang pertama. Ia memerintah tahun 1514 – 1528 M. Di bawah kekuasaannya, Kerjaan Aceh melakukn perluasan ke beberapa daerah yang berada di daerah Daya dan Pasai. Bahkan melakukan serangan terhadap kedudukan bangsa Portugis di Malaka dan juga menyerang Kerajaan Aru.

2.         2. Sultan Salahuddin
           Setelah Sultan Ali Mughayat Wafat, pemeintahan beralih kepada putranya yg bergelar Sultan Salahuddin. Ia memerintah tahun 1528 – 1537 M, selama menduduki tahta kerajaan ia tidak memperdulikan pemerintahaan kerajaannya. Keadaan kerajaan mulai goyah dan mengalami kemerosostan yg tajam. Oelh karena itu, Sultan Salahuddin digantiakan saudaranya yg bernama Alauddin Riayat Syah al-Kahar.

3.         3. Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar
           Ia memerintah Aceh dari tahun 1537 – 1568 M. Ia melakukan berbagai bentuk perubahan dan perbaikan dalam segala bentuk pemeintahan Kerajaan Aceh.
           Pada masa pemeintahannya, Kerajaan Aceh melakukan perluasaan wilayah kekuasaannya seperti melakukan serangan terhadap  Kerajaan Malaka ( tetapi gagal ). Daerah Kerajaan Aru berhasil diduduki. Pada masa pemerintahaannya, kerajaan Aceh mengalami masa suram. Pemberontakan dan perebutan kekuasaan sering terjadi.

4.         4. Sultan Iskandar Muda
          Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh tahun 1607 – 16 36 M. Di bawah pemerintahannya, Kerjaan Aceh mengalami kejayaan. Kerajaan Aceh tumbuh menjadi kerjaan besar adn berkuasa atas perdagangan Islam, bahakn menjadi bandar transito yg dapat menghubungkan dgn pedagang Islam di dunia barat.
          Untuk mencapai kebesaran Kerajaan Ace, Sultan Iskandar Muda meneruskan perjuangan Aceh dgn menyerang Portugis dan Kerajaan Johor di Semenanjung Malaya. Tujuannya adalah menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan menguasai daerah – daerah penghasil lada.   Sultan Iskandar Muda juga menolak permintaan Inggris dan Belanda untuk membeli lada di pesisir Sumatera bagian barat. Selain itu, kerajaan Aceh melakukan pendudukan terhadap daerah – daerah seperti Aru, pahang, Kedah, Perlak, dan Indragiri, sehingga di bawah pemerintahannya Kerajaan aceh memiliki wilayah yang sangat luas.
           Pada masa kekeuasaannya, terdapat 2 orang ahli tasawwuf yg terkenal di Ace, yaitu Syech Syamsuddin bin Abdullah as-Samatrani dan Syech Ibrahim as-Syamsi. Setelah Sultam iskandar Muda wafat tahta Kerajaan Aceh digantikan oleh menantunya, Sultan Iskandar Thani.

5.         5. Sultan Iskandar Thani.
           Ia memerinatah Aceh tahun 1636 – 1641 M. Dalam menjalankan pemerintahan, ia melanjutkan tradisi kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Pada masa pemerintahannya, muncul seorang ulama besar yg bernama Nuruddin ar-Raniri. Ia menulis buku sejarah Aceh berjudul Bustanu’ssalatin. Sebagai ulama besar, Nuruddin ar-Raniri sangat di hormati oleh Sultan Iskandar Thani dan keluarganya serta oleh rakyat Aceh. Setelah Sultan Iskandar Thani wafat, tahta kerjaan di pegang oleh permaisurinya ( putri Sultan Iskandar Thani ) dgn gelar Putri Sri Alam Permaisuri ( 1641-1675 M ).
Corak pemerintahan di Aceh terdiri atas dua sistem: pemerintahan sipil di bawah kaum bangsawan, disebut golongan teuku; dan pemerintahan atas dasar agama di bawah kaum ulama, disebut golongan tengku atau teungku.

           Penyebab Kemunduran Kerajaan Aceh
*               - Setelah Sultan Iskandar Muda wafat tahun 1030, tidak ada raja – raja besar yang mampu mengendalikan daerah Aceh yang demikian luas. Di bawah Sultan Iskandar Thani ( 1637 – 1641 ), sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda, kemunduran itu mulai terasa & terlebih lagi setelah meninggalnya Sultan Iskandar Thani.
*               - Timbulnya pertikaian yang terus menerus di Aceh antara golongan bangsawan ( teuku ) dgn golongan utama ( teungku ) yang mengakibatkan melemahnya Kerajaan Aceh. Antara golongan ulama sendiri prtikaian terjadi karena perbedaan aliran dalam agama ( aliran Syi’ah dan Sunnah wal Jama’ah )
*               - Daerah kekuasaannya banyak yang melepaskan diri seperti Johor, Pahang, Perlak, Minangkabau, dan Siak. Negara – negara itu menjadikan daerahnya sebagai negara merdeka kembali, kadang – kadang di bantu bangsa  asing yang menginginkan keuntungan perdagangan yang lebuh besar.



Kerajaan Mataram Islam

Kesultanan Mataram adalah kerajaan Islam di Pulau Jawa yang pernah berdiri pada abad ke-17. Kerajaan Mataram berkembang dari sebuah kadipaten yang saat itu di bawah kekuasaan Pajang. Wilayah Kerajaan Mataram di daerah Jawa Barat selatan (pinggir Kota Jogjakarta sekarang). Wilayah kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat.

Kerajaan Mataram Islam didirikan oleh Ki Ageng Pemanahan dengan membuka alas mentaok sebagai hadiah dari Sultan Hadiwijaya, raja Pajang. Kemudian Sutawijaya menjadi raja Mataram pertama dengan gelar Panembahan Senapati (1586 – 1601). Kotagedhe sebagai ibukotanya.

Tindakan-tindakannya yang penting, antara lain sebagai berikut:
1)     Meletakkan dasar-dasar Kerajaan Mataram;
2)     Memperluas wilayah kekuasaan dengan menundukkan Surabaya, Madiun, dan     Ponorogo ke timur dan ke barat berhasil menundukkan Cirebon dan Galuh.      
     
Pengganti Panembahan Senopati ialah Mas Jolang gugur di daerah Krapyak sehingga disebut Panembahan Seda Krapyak. Raja terbesar Kerajaan Mataram ialah Mas Rangsang dengan gelar Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613–1645).Sultan Agung bercita-cita mempersatukan seluruh Jawa di bawah kekuasaan Mataram dan mengusir Kompeni (VOC) dari Batavia.

    Masa pemerintahan Sultan Agung yang selama 32 tahun dibedakan atas dua periode, yaitu masa Penyatuan Kerajaan dan masa Pembangunan. Masa Penyatuan Kerajaan (1613–1629) merupakan masa peperangan untuk mewujudkan cita-cita menyatukan seluruh Jawa. Sultan Agung menundukkan Gresik, Surabaya, Kediri, Pasuruan, dan Tuban. Selanjutnya, menundukkan Lasem, Pamekasan, dan Sumenep, bahkan juga Sukadana di Kalimantan. Dengan demikian, seluruh Jawa telah takluk di bawah Mataram bahkan sampai ke luar Jawa, yakni Palembang, Sukadana, dan Goa.

    Setelah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Cirebon berhasil dikuasai, Sultan Agung merencanakan untuk menyerang Batavia. Serangan pertama dilancarkan pada bulan Agustus 1628 di bawah pimpinan Bupati Baurekso dari Kendal dan Bupati Ukur dari Sumedang. Batavia dikepung dari darat dan laut selama dua bulan, namun tidak mau menyera,h bahkan sebaliknya tentara Mataram dipukul mundur.

    Dipersiapkan serangan yang kedua lebih matang dengan membuat pusat-pusat perbekalan makanan di Tegal, Cirebon, dan Krawang. Serangan kedua dilancarkan bulan September 1629 di bawah pimpinan Bupati Sura Agul-Agul, Mandurarejo, dan Uposonto. Namun, VOC telah mengetahui lebih dahulu rencana tersebut. Hal itu dibuktikan dengan tindakan VOC membakar dan memusnahkan gudang-gudang perbekalan. Serangan kedua Mataram ke Batavia mengalami kegagalan karena kurangnya perbekalan makanan, kalah persenjataan, jarak Mataram–Jakarta sangat jauh, dan tentara Mataram terjangkit wabah penyakit.

     Setelah Sultan Agung meninggal, takhta kerajaan digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Amangkurat I (1645–1677). Berbeda dengan ayahnya, raja ini tidak bijaksana dan cenderung kejam dan kurang memperhatikan kepentingan rakyat. Banyak rakyat dan kaum bangsawan tidak menyukainya.

Pengganti Amangkurat I adalah putra mahkota yang bergelar Sultan Amangkurat II (1677–1703). Pada tahun 1703, Amangkurat II wafat, digantikan oleh putranya Sunan Mas dengan gelar Sultan Amangkurat III yang anti kepada Belanda.

Raja-raja yang memerintah :
1.      Panembahan Senopati
2.      Sultan Anyakrawati
3.      Sultan Agung Hanyakrakusuma
– Zaman keemasan
– Kebijakan Sultan Agung :
a)     Menyatukan seluruh P.Jawa kecuali : Banten, Cirebon, Mataram
b)     Mengusir VOC 2x, namun gagal
c)     membuat kalender Jawa
d)     memadukan unsur Islam dengan budaya Jawa
e)     meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pertanian
f)      menulis kitab Sastra Gendhing
g)     wilayah kerajaan dibagi menjadi Kutagara, Negara Agung, Mancanegara, daerah Pesisiran
4.      Amangkurat I
Pengaruh Belanda mulai masuk dan
berkembang di Kerajaan Mataram.
Th. 1755 Perjanjian Gianti
Th, 1757 Perjanjian Salatiga

Penyebab runtuhnya Kerajaan Mataram Islam:
*                          - Amangkurat I (1645-1676) Pemerintahannya yang diwarnai dengan banyak  pembunuhan/kekejaman. Ibukota kerajaan Mataram dipindahkan ke Kerta.
*                          - Terjadinya perang saudara atau dikenal dengan sebutan PerangPerebutan Mahkota I (1704-1708). Akhirnya Amangkurat III menyerah dan ia dibuang keSailan oleh VOC.
*                         - Pada masa Amangkurat IV (1719-1727) atau dikenal dengan sebutan Sunan Prabu,  dipenuhi dengan pemberontakan para bangsawan yang menentangnya, dan seperti biasa VOC turut andil pada konflik ini, sehinggga konflik membesar dan terjadilah Perang Perebutan MahkotaII (1719-1723). VOC berpihak pada Sunan Prabu sehingga para pemberontak berhasil ditaklukkan dan dibuang VOC ke Sri Langka dan Afrika Selatan.
*                      - Sunan Prabu meninggal tahun 1727 dan diganti oleh Paku Buwana II (1727-1749). Pada masa pemerintahannya terjadi pemberontakan China terhadap VOC. 

Kerajaan Demak

Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Sebelumnya kerajaan Demak merupakan keadipatian vazal dari kerajaan Majapahit. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1500 hingga tahun 1550. Raden patah adalah bangsawan kerajaan Majapahit yang telah mendapatkan pengukuhan dari Prabu Brawijaya yang secara resmi menetap di Demak dan mengganti nama Demak menjadi Bintara.

Pada masa sebelumnya Kerajaan Demak bernama Bintaro yang merupakan daerah Vasal atau bawahan Kerajaan Majapahit. De Graaf dan Pigeud (1989) dalam uraiannya menjelaskan bahwa Demak pada zaman dahulu terletak di pantai selat yang memisahkan pegunungan Muria dari Jawa. Selat yang cukup lebar dan dapat dilayari kapal-kapal dagang inilah yang memungkinkan Demak akhirnya menjadi satu pelabuhan yang terkenal. 

Lapisan-lapisan sosial yang terdapat di Demak dapat dikelompokkan kedalam 3 tingkatan, yaitu:
1.      Lapisan Atas. Kelompok masyarakat yang paling terpandang karena status atau tingkat kehidupan ekonominya yang tinggi adalah
1)     Raja dan keluarganya,
2)     Pejabat tinggi kerajaan dan
3)     Para ulama besar/syekh.
Dalam kisah-kisah tradisi disebutkan bahwa kerajaan Demak dikenal memiliki 5 imam, yaitu
1)     Pangeran (Sunan) Bonang;
2)     Makdum Sampang;
3)     Kiai Gedeng Pambayun ing Langgar;
4)     Penghulu Rahmatullah dari Undung; dan
5)     Pangeran Kudus atau Pandita Rabani. 
2.      Lapisan Tengah. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah
1)     Para imam dan santri;
2)     Para prajurit atau tentara;
3)     Para pedagang menengah;
4)     Para penjaga masjiddan makam suci; dan
5)     Para penulis kronik.    
3.      Lapisan Bawah. Termasuk ke dalam lapisan ini adalah
1)     Para petani dan nelayan;
2)     Para tukang dan pengrajin;
3)     Para pedagangkecil; dan
4)     Para seniman.

Raja – raja Demak mendapat penyebutan gelar Sultan.

Faktor-faktor pendorong kemajuannya adalah sebagai berikut:
1.      Letaknya strategis di daerah pantai, sehingga terbuka hubungan dengn dunia luar.
2.      Pelabuhan Bergota di Semarang merupakan pelabuhan ekspor-impor yang penting bagi Demak.
3.      Memiliki sungai sebagai penghubung daerah pedalaman, sehingga membantu pengangkutan hasil pertanian beras sebagai komoditas ekspor utama.
4.      Runtuhnya Majapahit oleh Demak membuatnya berkembang pesat.

Beberapa Raja yang memerintah Kerajaan Demak:
1.      Raden Patah (1478 - 1518)
Raden Patah adalah pendiri dan raja pertama di Demak. Pada masa pemerintahannya mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dengan bantuan para wali, Demak diperluas hingga meliputi Jepara, Pati, Rembang, Semarang, kepulauan di selat Karimata dan beberapa daerah di Kalimantan. Kerajaan ini menguasai beberapa pelabuhan penting seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan dan Gresik.
Perannya dalam penyebaran agama Islam sangatlah besar. Dengan bantuan Sembilan Wali (Wali Songo), Demak menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa dan wilayah Nusantara bagian timur. Oleh para wali, di Demak didirikan Masjid Agung Demak yang masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Raden Patah wafat tahun 1518 M, kemudian digantikan oleh putra Mahkotanya Raden Pati Unus.
2.      Pati Unus ( 1518 - 1521 M )
Pati Unus berkuasa tahun 1518 M sampai tahun 1521 M. Karena jasanya memimpin armada Demak dalam penyerangan ke Malaka, Pati Unus mendapatkan sebutan "Pangeran Sabrang Lor". Pemerintahan Pangeran Sabrang Lor tidak berlangsung lama, karena setelah 3 tahun memerintah beliau sakit dan wafat tahun 1521 M. Pati Unus meninggal tanpa menurunkan anak. Sebagai penggantinya adalah adiknya yang bernama Raden Trenggono yang kemudian bergelar Sultan Trenggono.
3.      Sultan Trenggono ( 1521 - 1546 )
Sultan Trenggono adalah adik Pati Unus dan putra ketiga Raden Patah. Di bawah pemerintahannya wilayah Demak bertambah luas. Tahun 1522, armada laut Demak di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) mengadakan penyerangan dimulai dari Banten, Sunda Kelapa, kemudian ke Cirebon. Ketiga daerah ini semula berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Pada saat itu juga Portugis bekerja sama dengan Pajajaran untuk menguasai Sunda Kelapa.  
Pada tahun 1527 M, Demak berhasil merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis. Fatahillah menggantikan nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Saat pemindahan nama ini ditetapkan sebagai berdirinya kota DKI Jakarta.
Sultan Trenggono wafat pada tahun 1546 M.

Sepeninggal Sultan Trenggono, di Demak terjadi perebutan kekuasaan antara putra sulung Sultan Trenggono yang bernama Sunan Prawoto dengan Pangeran Sekar, kakak Sultan Trenggono. Pangeran Sekar kalah dan meninggal, Kemudian, Sunan Prawoto menjadi raja Demak.

Sunan Prawoto tidak lama menjadi raja di Demak, terjadi pemberontakan oleh Arya Penangsang anak Pangeran Sekar. Dalam peperangan itu, Sunan Prawoto gugur. Arya Penangsang mendapat perlawanan dari menantu Sultan Trenggono yang bernama Pangeran Hadiri (Sultan Kalinyamat), tetapi tidak berhasil. Pangeran Hadiri meninggal oleh Arya Penangsang..

Perlawanan dilanjutkan oleh Joko Tingkir, menantu Sultan Trenggono yang berasal dari Tingkir Salatiga. Dengan siasat yang diajarkan Ki Ageng Pemanahan. Pemberontakan Arya Penangsang (Adipati Jipang) dapat dipadamkan.

Siasat tersebut antara lain dengan menampilkan Sutawijaya, anak Ki Ageng Pemanahan yang baru berusia 16 tahun dijadikan sebagai Panglima perang. Akibatnya, Arya Penangsang tidak tega membunuh, tetapi justru sebaliknya Arya Penangsang terbunuh o;eh Sutawijaya.

Berkat jasanya mengalahkan Arya Penangsang, Ki Ageng Pemanahan mendapat hadiah wilayah di daerah Mataram yaitu Kota Gede dan sekitarnya. Sutawijaya dijadikan anak angkat Joko Tingkir. Setelah menjadi raja, Joko Tingkir memindahkan pusat pemerintahan Demak ke Pajang. Beberapa alasan Joko Tingkir memindahkan pusat kerajaan ke Pajang adalah:
1.      Kerajaan Demak mengalami kehancuran total akibat perang saudara yang berlarut-larut.
2.      Mendekati daerah pertanian yang subur yaitu di sekitar Surakarta dan Klaten.
3.      Menjauhi musuh-musuh politiknya yang ada di sekitar Demak.
4.      Mendekati daerah pendukungnya yaitu di sekitar Tingkir dan Pajang.
Beberapa peninggalan Kerajaan Demak adalah sebagai berikut :
·        Masjid Agung Demak yang di bangun oleh Wali songo pada tahun 1478.
·        Piring Campa merupakan pemberian Ibu Raden Patah yang bernama Putri Campa .
·        Pintu Bledeg / Pintu Petir dibuat oleh Ki Ageng selo .
·        Saka Tatal merupakan saka ( tiang ) Utama Masjid Demak di buat oleh Wali Songo . Tiang buatan sunan Kalijaga tersebut di buat dari tatal yang diikat dengan rumput rawadan . Tiang ini mengandung pelajaran persatuan .
·        Bedug dan kentongan . Bedug ini karya wali Songo berfungsi sebagai tanda umat Islam menjalankan salat lima waktu .
·        Dampar Kencana digunakan untuk tempat duduk para sultan dan sekarang di gunakan untuk mimbar khutbah .

Saka Tatal