Senin, 23 Desember 2013

Tugas B.Indonesia Buat Cerpen

Hai hai.. 
aku balik nih.. 
sekarang aku mau ngepost cerpen karyaku yang sebenernya masih mengandung unsur copast.. -.- hehe =D ._.
soalnya ini tugas... males bikinnya.. otak lagi buntu.. 
temanya kejujuran . 
ya ini lah jadinya.. *tarah!


Indahnya Kejujuran

            Athifa masih berada di depan meja belajarnya. Ditemani segelas susu hangat.  Dia masih berusaha meenghafal pelajaran sejarah. Kadang ia juga memejamkan mata dan  berharap semua yang dihafal itu dapat melekat di otak. Namun, rasa kantuk menghapus hafalannya.
            “Mmm... Raja – raja Kerajaan Kutai adalah... aahh!!! Lupa lagi !!!”
            Athifa terus berusaha menghafal. Tapi, rasa kantuknya semakin besar membuat ia semakin susah menghafal. Lalu, dia membuka lembar selanjutnya. Sambil memejam mata ia mencoba menghafal.
“Raja terkenal Kerajaan Tarumanegara .. Raja Purnawarman. Raja terkenal Kerajaan Majapahit ... Ah lupa lagi, lupa lagi.., Ukh!!!”
Ia semakin kesal. Ia membuka setiap lembar buku di depannya dengan malas. Detik demi detik terus berlalu. Athifa memandang jam dindingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Athifa belum juga selesai menghafal. Padahal masih banyak materi yang harus ia hafalkan.
“Biasanya jam segini aku sudah mimpi indah. Ah!!” gerutunya kesal. “Nggak ada cara lain.” Gumamnya  pelan hingga tak terdengar.
Ia mengambil secarik kertas dan segera menulisi kertas itu dengan tulisan yang acak – acakan. Akhirnya, Athifa pun selesai. Athifa segera melompat ke kasur dan kertas berisi coretan tadi berada dibawah bantalnya.
Sudah 10 menit ia berada di atas kasurnya yang empuk. Athifa masih belum juga bisa tidur. Meski ia sudah berusaha memjamkan matanya berkali – kali. Padahal dari tadi ia sudah menggerutu mengantuk. Ternyata ia gelisah. Bagaimana kalau Bu Guru dan teman – teman tau aku menyontek?  Tanyanya dalam hati. Tapi, kalau nggak nyontek, aku pasti tidak bisa mengerjakan soal ulangan besok. Tapi, aku pasti dosa, aku curang. Tapi.., tapi... Sebelum melanjutkan kegelisahannya, ia sudah tertidur.
***
Ulangan sejarah telah usai. Semua anak – anak berhamburan keluar kelas. Juga banyak yang sedang membicarakan soal ulangan sejarah tadi. Athifa masih terduduk di bangkunya. Ah, syukurlah tidak ada yang tau.. Ucap Athifa dalam hati.
“Athifa.”
“Eh, Sakhi!” Athifa terkejut, dan bangun dari lamunannya.
“Ke kantin yuk.”
“Yuk.”
***
Hari ini, hasil ulangan sejarah kemarin dibagikan. Jantung Athifa berdegup. Ia takut mendapat nilai yang jelek. Setelah ia lihat kertas ulangannya, ia merasa senang mendapat nilai yang memuaskan.  Ia pulang dengan persaan senang dan bangga. Karena dia mendapat nilai tertinggi di kelas.
“Ciee.. yang dapat nilai tertinggi di kelas. Senyum – senyum terus. Hihihi..” Canda Sakhi.
“Ih apaan sih, Khi. Oh iya, kamu dapat berapa Khi?”
“Aku? Jelek ah.”
“Nggak apa – apa. Lihat dong..”
“Nih. Jelek kan?”
“Lumayan bagus kok..”
“Tapi nggak apa – apa deh. Yang penting ini hasil dari pemikiranku sendiri.” Ucap Sakhi dengan senyumnya yang ramah.
Perasaan Athifa langsung berubah setelah mendengar perkataan Sakhi. “Sudah ya Khi, aku duluan. Dah!”
“Dah Athifa!”
Athifa berbelok ke kanan, sementara Sakhi tidak.
“Wah, bagus sekali nilaimu. Begini dong sayang. Mama kan bangga kalau punya anak yang pintar seperti kamu.” Puji Mama.
“Iya dong ma. Hehehehe.”
Athifa masih terus melihat kertas ulangannya. Ia merasa senang. Tapi, entah mengapa ia merasa tak puas dengan hasil ulangannya.
“Kenapa sih, kok aku nggak puas sama hasil ulangan aku. Padahal kan, nilaiku bagus. Bagus banget malah. Kok aku nggak puas sih? Ukh !” Gumam Athifa di dalam kamarnya.
Ia melentangkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Hingga tertidur.
***
“Selamat pagi anak – anak. Assalamualaikum .WR.WB.” Salam guru agama Athifa, Bu Mahya.
“Selamat pagi Bu. Waalaikumsallam .WR.WB.”
“Hari ini ibu akan membahas tentang kejujuran.” “ Kejujuran adalah perhiasan orang berbudi mulia dan orang yang berilmu. Oleh sebab itu, sifat jujur sangat dianjurkan untuk dimiliki setiap umat Rasulullah saw. Jujur dapat diartikan bisa menjaga amanah. Jujur merupakan salah satu sifat manusia yang mulia, orang yang memiliki sifat jujur biasanya dapat mendapat kepercayaan dari orang lain. Sifat jujur juga merupakan salah satu rahasia diri seseorang untuk menarik kepercayaan umum karena orang yang jujur senantiasa berusaha untuk menjaga amanah. Berhasil atau tidaknya suatu amanat sangat tergantung pada kejujuran orang yang memegang amanat tersebut. Jika orang yang memegang amanah adalah orang yang jujur maka amanah tersebut tidak akan terabaikan dan dapat terjaga atau terlaksana dengan baik. Begitu juga sebaliknya, jika amanah tersebut jatuh ke tangan orang yang tidak jujur maka ‘keselamatan’ amanah tersebut pasti ‘tidak akan tertolong’. Orang yang mempunyai sifat jujur akan dikagumi dan dihormati banyak orang. Karena orang yang jujur selalu dipercaya orang untuk mengerjakan suatu yang penting. Hal ini disebabkan orang yang memberi kepercayaan tersebut akan merasa aman dan tenang.” Jelas Bu Mahya panjang lebar.
“Ada yang ingin bertanya?” Sambung Bu Mahya setelah berhenti sejenak sehabis panjang lebar menjelaskan tentang kejujuran.
“Saya, Bu.” Terdengar suara seorang anak sambil mengacungkan tangan. Lalu disambungnya dengan pertanyaannya. “Amanah itu apa, Bu?”
“Amanah adalah ibarat barang titipan yang harus dijaga dan dirawat dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Sudah mengerti?”
“Sudah Bu.” Jawab anak tadi dengan lantang.
“Ada yang ingin bertanya lagi?”
“Mmm.. Saya, Bu.”
“Iya, Athifa.”
“Contohnya sikap jujur dan tidak jujur apa ya, Bu?” Tanya Athifa.
“Contohnya yang simple – simple dulu aja yah. Contohnya, ketika kalian mengerjakan ulangan. Biasanya kalian belajar kan? Nah untuk contoh jujurnya, kalian tidak akan mencontek saat ulangan. Begitu pula sebaliknya, jika kalian mencontek, berarti tandanya kalian tidak jujur. Mengerti Athifa?”
“Iya, Bu. Terus apa kalau kitaa berbuat tidak jujur. Kita akan mendapat dosa?”
“Tentu saja. Apalagi ketika ulangan terus mencontek. Pasti rasanya kurang puas kan?”
“Lalu, bagaimana caranya memperbaiki semua itu, Bu?”
“Ya, dengan tidak mengulangi semua perbuatan tidak jujur itu tadi. Ya sudah, Ibu tutup pelajaran hari ini. Wassalamualaikum .WR.WB.”
“Waalaikumsallam .WR.WB.”
Semua anak sudah berhamburan keluar kelas. Lagi – lagi Athifa melamun. Entah apa yang ia pikirkan, tak ada seorangpun yang tau.
“Athifa!” Seru seseorang sambil menepuk punggung Athifa, membuat Athifa melonjak kaget.
“Iiihhh..  Sakhi!!” Ucap Athifa kesal. “Uhh..” Gumam Athifa.
“Hihihihi..” Tawa Sakhi dan Ulfa. Ulfa, sahabat Athifa dan Sakhi namun berbeda kelas.
“Lho.. Ulfa!? Sudah masuk sekolah lagi?” Ucap Athifa bingung sedikit terkejut.
“Hai.. Iya. Ke kantin yuk, keburu masuk.”
“Yuk.”
***
Aduuuhh.. Berarti aku nggak jujur dong ya? Tanyanya dalam hati. Huuhh.. Gimana nih? Memang benar sih kata Bu Mahya, aku nggak puas dengan hasil ulanganku kemarin. Padahal hasilnya memuaskan. Berarti aku harus memperbaiki semuanya, dengan tidak mengulangi semua perbuatan tidak jujurku. Baik. Aku janji aku tidak akan mencontek lagi, bagaimanapun keadaanya.
Sekarang persaan Athifa sudah lebih baik. Dia akan terus berbuat jujur.
“Oh iya, 2 hari lagi kan ada Ujian Kenaikan Kelas. Aku belajar dulu aja kali, yah. Biar nggak seperti kemarin lagi.” Ujar Athifa dengan senyumnya yang cantik.
Dua hari telah cepat berlalu. Hari ini, hari pertama Athifa melaksanakan Ujian Kenaikan Kelas. Kali ini, dia bersikap jujur dan tidak curang. Selama dua hari lalu, Athifa belajar dengan giatnya. Ia ingin seperti Sakhi yang pintar dan jujur.
Hari ini, adalah pembagian raport. Papa Athifa yang mengambilkan raport di sekolahnya. Di rumah, Athifa menunggu dengan perasaan cemas. Athifa takut mendapat nilai yang jelek. Pasti Mama dan Papa akan kecewa dapat nilai yang jelek, ucapnya dalam hati.
“Athifa.. Kamu kenapa kok mondar mandir? Mama pusing lihatnya.” Ucap Mama menegur Athifa yang dari tadi tidak bisa diam.
“Mmm.. Nggak apa – apa kok Ma.” Jawab Athifa lalu duduk membantu Mama membersihkan rumah.
Tak lama, Papa pulang dan mengucap salam.
“Assalamualikum.” Ucap Papa dengan senyum yang cerah.
“Waalaikumsallam.” Jawab Athifa dan Mama serentak. “Papa. Bagaimana hasil raportku?” Tanya Athifa sambil berlari menuju Papanya.
Papa tersenyum. Lalu berkata. “Selamat ya, kamu masuk 10 besar. Kamu mendapat rangking 9. Selamat ya Athifa.” Papa mengecup kening Athifa.
Athifa hanya bengong. Ia tak percaya, bisa masuk 10 besar. Padahal selama ini ia tak pernah masuk 10 besar.
“Wah iya, selamat ya sayang.” Ibu juga mengecup kening Athifa.
“Ini, ada piagam dan hadiahnya. Athifa?” Ucap Papa hingga mengagetkan Athifa.
“Iya Pa. Papa yakin aku masuk 10 besar?”
“Iya. Selamat ya. Ini piagam dan hadiahnya.”
“Nah sebagai hadiahnya. Tahun ini kita liburan ke rumah Oma.” Ucap Ibu.
“Hore!!” Seru Athifa kegirangan.

Ternyata memang benar, rasanya puas banget. Dapat nilai bagus dari hasil nyontek sama bukan hasil nyontek itu beda. Sekarang aku sudah bisa buat Mama dan Papa bangga sama aku. Ucap Athifa dalam hati. 

~TAMAT~

gimana? bagus gak? jelek yah.. *emang.. .-. wkwk 
haha

thank you :* bye..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar