Hai hai..
aku balik nih..
sekarang aku mau ngepost cerpen karyaku yang sebenernya masih mengandung unsur copast.. -.- hehe =D ._.
soalnya ini tugas... males bikinnya.. otak lagi buntu..
temanya kejujuran .
ya ini lah jadinya.. *tarah!
Indahnya
Kejujuran
Athifa masih berada di depan meja belajarnya.
Ditemani segelas susu hangat. Dia masih
berusaha meenghafal pelajaran sejarah. Kadang ia juga memejamkan mata dan berharap semua yang dihafal itu dapat melekat
di otak. Namun, rasa kantuk menghapus hafalannya.
“Mmm... Raja – raja Kerajaan Kutai adalah... aahh!!! Lupa
lagi !!!”
Athifa terus berusaha menghafal. Tapi, rasa kantuknya
semakin besar membuat ia semakin susah menghafal. Lalu, dia membuka lembar
selanjutnya. Sambil memejam mata ia mencoba menghafal.
“Raja terkenal Kerajaan Tarumanegara
.. Raja Purnawarman. Raja terkenal Kerajaan Majapahit ... Ah lupa lagi, lupa
lagi.., Ukh!!!”
Ia
semakin kesal. Ia membuka setiap lembar buku di depannya dengan malas. Detik
demi detik terus berlalu. Athifa memandang jam dindingnya. Waktu sudah
menunjukkan pukul 10.00 malam. Athifa belum juga selesai menghafal. Padahal
masih banyak materi yang harus ia hafalkan.
“Biasanya
jam segini aku sudah mimpi indah. Ah!!” gerutunya kesal. “Nggak ada cara lain.”
Gumamnya pelan hingga tak terdengar.
Ia
mengambil secarik kertas dan segera menulisi kertas itu dengan tulisan yang
acak – acakan. Akhirnya, Athifa pun selesai. Athifa segera melompat ke kasur
dan kertas berisi coretan tadi berada dibawah bantalnya.
Sudah
10 menit ia berada di atas kasurnya yang empuk. Athifa masih belum juga bisa
tidur. Meski ia sudah berusaha memjamkan matanya berkali – kali. Padahal dari
tadi ia sudah menggerutu mengantuk. Ternyata ia gelisah. Bagaimana kalau Bu
Guru dan teman – teman tau aku menyontek?
Tanyanya dalam hati. Tapi, kalau nggak nyontek, aku pasti tidak bisa
mengerjakan soal ulangan besok. Tapi, aku pasti dosa, aku curang. Tapi..,
tapi... Sebelum melanjutkan kegelisahannya, ia sudah tertidur.
***
Ulangan
sejarah telah usai. Semua anak – anak berhamburan keluar kelas. Juga banyak
yang sedang membicarakan soal ulangan sejarah tadi. Athifa masih terduduk di
bangkunya. Ah, syukurlah tidak ada yang tau.. Ucap Athifa dalam hati.
“Athifa.”
“Eh,
Sakhi!” Athifa terkejut, dan bangun dari lamunannya.
“Ke
kantin yuk.”
“Yuk.”
***
Hari
ini, hasil ulangan sejarah kemarin dibagikan. Jantung Athifa berdegup. Ia takut
mendapat nilai yang jelek. Setelah ia lihat kertas ulangannya, ia merasa senang
mendapat nilai yang memuaskan. Ia pulang
dengan persaan senang dan bangga. Karena dia mendapat nilai tertinggi di kelas.
“Ciee..
yang dapat nilai tertinggi di kelas. Senyum – senyum terus. Hihihi..” Canda
Sakhi.
“Ih
apaan sih, Khi. Oh iya, kamu dapat berapa Khi?”
“Aku?
Jelek ah.”
“Nggak
apa – apa. Lihat dong..”
“Nih.
Jelek kan?”
“Lumayan
bagus kok..”
“Tapi
nggak apa – apa deh. Yang penting ini hasil dari pemikiranku sendiri.” Ucap
Sakhi dengan senyumnya yang ramah.
Perasaan
Athifa langsung berubah setelah mendengar perkataan Sakhi. “Sudah ya Khi, aku
duluan. Dah!”
“Dah
Athifa!”
Athifa
berbelok ke kanan, sementara Sakhi tidak.
“Wah,
bagus sekali nilaimu. Begini dong sayang. Mama kan bangga kalau punya anak yang
pintar seperti kamu.” Puji Mama.
“Iya
dong ma. Hehehehe.”
Athifa
masih terus melihat kertas ulangannya. Ia merasa senang. Tapi, entah mengapa ia
merasa tak puas dengan hasil ulangannya.
“Kenapa
sih, kok aku nggak puas sama hasil ulangan aku. Padahal kan, nilaiku bagus.
Bagus banget malah. Kok aku nggak puas sih? Ukh !” Gumam Athifa di dalam
kamarnya.
Ia
melentangkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Hingga tertidur.
***
“Selamat
pagi anak – anak. Assalamualaikum .WR.WB.” Salam guru agama Athifa, Bu Mahya.
“Selamat
pagi Bu. Waalaikumsallam .WR.WB.”
“Hari
ini ibu akan membahas tentang kejujuran.” “ Kejujuran adalah perhiasan orang
berbudi mulia dan orang yang berilmu. Oleh sebab itu, sifat jujur sangat
dianjurkan untuk dimiliki setiap umat Rasulullah saw. Jujur dapat diartikan
bisa menjaga amanah. Jujur merupakan salah satu sifat manusia yang mulia, orang
yang memiliki sifat jujur biasanya dapat mendapat kepercayaan dari orang lain.
Sifat jujur juga merupakan salah satu rahasia diri seseorang untuk menarik kepercayaan
umum karena orang yang jujur senantiasa berusaha untuk menjaga amanah. Berhasil
atau tidaknya suatu amanat sangat tergantung pada kejujuran orang yang memegang
amanat tersebut. Jika orang yang memegang amanah adalah orang yang jujur maka
amanah tersebut tidak akan terabaikan dan dapat terjaga atau terlaksana dengan
baik. Begitu juga sebaliknya, jika amanah tersebut jatuh ke tangan orang yang
tidak jujur maka ‘keselamatan’ amanah tersebut pasti ‘tidak akan tertolong’. Orang
yang mempunyai sifat jujur akan dikagumi dan dihormati banyak orang. Karena
orang yang jujur selalu dipercaya orang untuk mengerjakan suatu yang penting.
Hal ini disebabkan orang yang memberi kepercayaan tersebut akan merasa aman dan
tenang.” Jelas Bu Mahya panjang lebar.
“Ada yang ingin bertanya?” Sambung
Bu Mahya setelah berhenti sejenak sehabis panjang lebar menjelaskan tentang
kejujuran.
“Saya, Bu.” Terdengar suara seorang
anak sambil mengacungkan tangan. Lalu disambungnya dengan pertanyaannya.
“Amanah itu apa, Bu?”
“Amanah adalah ibarat barang titipan
yang harus dijaga dan dirawat dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.
Sudah mengerti?”
“Sudah Bu.” Jawab anak tadi dengan
lantang.
“Ada yang ingin bertanya lagi?”
“Mmm.. Saya, Bu.”
“Iya, Athifa.”
“Contohnya sikap jujur dan tidak
jujur apa ya, Bu?” Tanya Athifa.
“Contohnya yang simple – simple dulu
aja yah. Contohnya, ketika kalian mengerjakan ulangan. Biasanya kalian belajar
kan? Nah untuk contoh jujurnya, kalian tidak akan mencontek saat ulangan.
Begitu pula sebaliknya, jika kalian mencontek, berarti tandanya kalian tidak
jujur. Mengerti Athifa?”
“Iya, Bu. Terus apa kalau kitaa
berbuat tidak jujur. Kita akan mendapat dosa?”
“Tentu saja. Apalagi ketika ulangan
terus mencontek. Pasti rasanya kurang puas kan?”
“Lalu, bagaimana caranya memperbaiki
semua itu, Bu?”
“Ya, dengan tidak mengulangi semua
perbuatan tidak jujur itu tadi. Ya sudah, Ibu tutup pelajaran hari ini.
Wassalamualaikum .WR.WB.”
“Waalaikumsallam .WR.WB.”
Semua anak sudah berhamburan keluar
kelas. Lagi – lagi Athifa melamun. Entah apa yang ia pikirkan, tak ada
seorangpun yang tau.
“Athifa!” Seru seseorang sambil
menepuk punggung Athifa, membuat Athifa melonjak kaget.
“Iiihhh.. Sakhi!!” Ucap Athifa kesal. “Uhh..” Gumam
Athifa.
“Hihihihi..” Tawa Sakhi dan Ulfa.
Ulfa, sahabat Athifa dan Sakhi namun berbeda kelas.
“Lho.. Ulfa!? Sudah masuk sekolah
lagi?” Ucap Athifa bingung sedikit terkejut.
“Hai.. Iya. Ke kantin yuk, keburu
masuk.”
“Yuk.”
***
Aduuuhh..
Berarti aku nggak jujur dong ya? Tanyanya dalam hati. Huuhh.. Gimana nih?
Memang benar sih kata Bu Mahya, aku nggak puas dengan hasil ulanganku kemarin.
Padahal hasilnya memuaskan. Berarti aku harus memperbaiki semuanya, dengan
tidak mengulangi semua perbuatan tidak jujurku. Baik. Aku janji aku tidak akan
mencontek lagi, bagaimanapun keadaanya.
Sekarang
persaan Athifa sudah lebih baik. Dia akan terus berbuat jujur.
“Oh
iya, 2 hari lagi kan ada Ujian Kenaikan Kelas. Aku belajar dulu aja kali, yah.
Biar nggak seperti kemarin lagi.” Ujar Athifa dengan senyumnya yang cantik.
Dua
hari telah cepat berlalu. Hari ini, hari pertama Athifa melaksanakan Ujian
Kenaikan Kelas. Kali ini, dia bersikap jujur dan tidak curang. Selama dua hari
lalu, Athifa belajar dengan giatnya. Ia ingin seperti Sakhi yang pintar dan
jujur.
Hari
ini, adalah pembagian raport. Papa Athifa yang mengambilkan raport di
sekolahnya. Di rumah, Athifa menunggu dengan perasaan cemas. Athifa takut
mendapat nilai yang jelek. Pasti Mama dan Papa akan kecewa dapat nilai yang
jelek, ucapnya dalam hati.
“Athifa..
Kamu kenapa kok mondar mandir? Mama pusing lihatnya.” Ucap Mama menegur Athifa
yang dari tadi tidak bisa diam.
“Mmm..
Nggak apa – apa kok Ma.” Jawab Athifa lalu duduk membantu Mama membersihkan
rumah.
Tak
lama, Papa pulang dan mengucap salam.
“Assalamualikum.”
Ucap Papa dengan senyum yang cerah.
“Waalaikumsallam.”
Jawab Athifa dan Mama serentak. “Papa. Bagaimana hasil raportku?” Tanya Athifa
sambil berlari menuju Papanya.
Papa
tersenyum. Lalu berkata. “Selamat ya, kamu masuk 10 besar. Kamu mendapat rangking
9. Selamat ya Athifa.” Papa mengecup kening Athifa.
Athifa
hanya bengong. Ia tak percaya, bisa masuk 10 besar. Padahal selama ini ia tak
pernah masuk 10 besar.
“Wah
iya, selamat ya sayang.” Ibu juga mengecup kening Athifa.
“Ini,
ada piagam dan hadiahnya. Athifa?” Ucap Papa hingga mengagetkan Athifa.
“Iya
Pa. Papa yakin aku masuk 10 besar?”
“Iya.
Selamat ya. Ini piagam dan hadiahnya.”
“Nah
sebagai hadiahnya. Tahun ini kita liburan ke rumah Oma.” Ucap Ibu.
“Hore!!”
Seru Athifa kegirangan.
Ternyata
memang benar, rasanya puas banget. Dapat nilai bagus dari hasil nyontek sama
bukan hasil nyontek itu beda. Sekarang aku sudah bisa buat Mama dan Papa bangga
sama aku. Ucap Athifa dalam hati.
~TAMAT~
gimana? bagus gak? jelek yah.. *emang.. .-. wkwk
haha
thank you :* bye..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar